Mahasiswa Prodi Kewirausahaan Universitas Bali Internasional Muhammadiyah Ciptakan Rabuk Mandai, Kuliner Khas Balangan yang Berhasil Menembus Pasar

Denpasar (18/8/2026)—Mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Astriana dan Muhammad Yusuf Universitas Bali Internasional Muhammadiyah kembali menunjukkan kreativitas dan semangat berwirausaha melalui pengembangan produk pangan lokal Rabuk Mandai, makanan khas Balangan, Kalimantan Selatan. Menariknya, produk inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap pengembangan dan uji coba, tetapi telah berhasil melalui uji pasar dan mulai dipasarkan kepada konsumen. Rabuk…


Eko Purnomo Avatar

·

3–4 minutes


Denpasar (18/8/2026)—Mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Astriana dan Muhammad Yusuf Universitas Bali Internasional Muhammadiyah kembali menunjukkan kreativitas dan semangat berwirausaha melalui pengembangan produk pangan lokal Rabuk Mandai, makanan khas Balangan, Kalimantan Selatan. Menariknya, produk inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap pengembangan dan uji coba, tetapi telah berhasil melalui uji pasar dan mulai dipasarkan kepada konsumen.

Rabuk Mandai merupakan inovasi pangan yang memanfaatkan mandai, yaitu kulit buah cempedak yang telah melalui proses fermentasi, yang selama ini menjadi salah satu bagian dari kekayaan kuliner masyarakat Kalimantan Selatan. Melalui sentuhan kreativitas mahasiswa, mandai dikembangkan menjadi produk rabuk dengan cita rasa gurih dan karakteristik yang khas sehingga lebih praktis dan memiliki potensi untuk diterima oleh konsumen yang lebih luas.

Pengembangan Rabuk Mandai menjadi salah satu bentuk penerapan pembelajaran kewirausahaan secara nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori mengenai penciptaan produk dan pengembangan bisnis, tetapi secara langsung menjalankan tahapan identifikasi potensi, pengembangan produk, pengemasan, branding, uji pasar, hingga pemasaran produk.

Salah satu capaian penting dari inovasi Rabuk Mandai adalah produk tersebut telah lulus uji pasar. Tahapan uji pasar dilakukan untuk mengetahui respons dan penerimaan konsumen terhadap produk yang dikembangkan, baik dari aspek rasa, bentuk produk, kemasan, harga, maupun minat beli.

Hasil uji pasar menunjukkan bahwa Rabuk Mandai mendapatkan respons positif dari konsumen. Hal tersebut menjadi indikator bahwa produk pangan berbasis kearifan lokal ini memiliki potensi pasar dan peluang untuk dikembangkan menjadi produk usaha yang berkelanjutan.

Setelah melewati tahap uji pasar, Rabuk Mandai kemudian telah mulai dijual dan dipasarkan kepada konsumen. Pemasaran produk menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa telah bergerak dari sekadar ide dan prototipe menuju produk yang benar-benar memiliki nilai ekonomi.

“Kami ingin membuktikan bahwa makanan tradisional dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual. Rabuk Mandai sudah melalui uji pasar dan mendapatkan respons positif dari konsumen. Karena itu, kami optimis produk ini dapat terus dikembangkan dan dipasarkan lebih luas,” ungkap tim mahasiswa pengembang Rabuk Mandai.

Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa dalam memahami proses membangun sebuah produk usaha secara langsung. Mulai dari menemukan ide, menentukan bahan baku, melakukan inovasi produk, menghitung nilai ekonomi, membuat kemasan, melakukan uji pasar, memperoleh tanggapan konsumen, hingga melakukan penjual

Pengembangan Rabuk Mandai juga memiliki nilai penting dalam upaya melestarikan dan memperkenalkan kuliner khas Balangan, Kalimantan Selatan. Mandai sebagai pangan tradisional memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk modern tanpa kehilangan identitas lokalnya.

Dengan pengemasan dan strategi pemasaran yang tepat, Rabuk Mandai diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif produk oleh-oleh dan pangan lokal yang mampu menjangkau konsumen di luar daerah asalnya.

Dari perspektif kewirausahaan, inovasi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber ide bisnis yang potensial. Bahan pangan yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi terbatas dapat diberikan nilai tambah melalui inovasi pengolahan, branding, kemasan, dan strategi pemasaran.

Pengembangan Rabuk Mandai menjadi salah satu contoh implementasi pembelajaran berbasis praktik di Program Studi Kewirausahaan Universitas Bali Internasional Muhammadiyah. Mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja dan pengembang produk inovatif.

Melalui proses tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menerapkan konsep entrepreneurship, inovasi produk, pemasaran, branding, perilaku konsumen, serta pengembangan model bisnis dalam situasi nyata.

Keberhasilan Rabuk Mandai melewati uji pasar dan telah dipasarkan menjadi indikator bahwa proses pembelajaran kewirausahaan dapat menghasilkan produk nyata yang memiliki peluang komersial.

Ke depan, mahasiswa akan terus melakukan pengembangan Rabuk Mandai, baik dari sisi kualitas produk, desain kemasan, perluasan pasar, pemasaran digital, maupun penguatan legalitas usaha dan keamanan pangan. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, Rabuk Mandai diharapkan mampu menjadi produk pangan lokal yang memiliki daya saing sekaligus membawa nama Balangan, Kalimantan Selatan ke pasar yang lebih luas.

Inovasi Rabuk Mandai menjadi bukti bahwa mahasiswa kewirausahaan mampu mengubah potensi pangan lokal menjadi peluang bisnis nyata: berawal dari kearifan lokal, dikembangkan melalui inovasi, diuji di pasar, dan kini telah memiliki konsumen.

Universitas Bali Internasional Muhammadiyah — Mencetak Entrepreneur Muda yang Kreatif, Inovatif, dan Berdaya Saing.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *