DENPASAR – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali menggelar Pengajian Akbar sekaligus Sosialisasi Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM) University pada Ahad, 4 Oktober 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid KH Ahmad Dahlan Denpasar ini dihadiri ratusan jamaah dan warga Muhammadiyah se-Bali.

Pengajian akbar tersebut menghadirkan dua tokoh utama, yakni Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah Dr. KH. Tafsir, M.Ag., dan Rektor BIM University Prof. Dr. Harun Joko Prayitno.
Dalam sambutannya, Ketua PWM Bali Ir. Husnul Fahmi menyampaikan apresiasi atas antusiasme jamaah yang hadir. Ia menegaskan bahwa kehadiran BIM University merupakan ikhtiar Muhammadiyah dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang unggul dan berkemajuan di wilayah Indonesia Timur, khususnya Bali.
“Kami mengajak kepada seluruh jamaah, para orang tua, dan generasi muda Muhammadiyah Bali untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan ke BIM University. Ini adalah kampus kita, kampus milik persyarikatan. Harapan kami, dari pengajian ini lahir calon-calon mahasiswa baru yang akan menjadi bagian dari keluarga besar BIM University dan menjadi kader yang mencerahkan Bali,” ujar Husnul Fahmi.
Sementara itu, Rektor BIM University Prof. Dr. Harun Joko Prayitno dalam paparannya menjelaskan profil dan perkembangan kampus BIM University. Ia menyampaikan bahwa sebagai universitas yang masih dalam tahap tumbuh dan berkembang, BIM University sangat membutuhkan dukungan, doa, dan dorongan nyata dari seluruh warga Muhammadiyah Bali.
“BIM University tidak bisa berjalan sendiri. Kami butuh guyub, butuh kebersamaan, dan butuh gerakan kolektif dari warga Muhammadiyah Bali untuk membesarkan kampus ini bersama-sama. Mari kita jadikan BIM University sebagai pusat keunggulan, pusat kaderisasi, dan pusat dakwah Muhammadiyah di Bali dan Nusa Tenggara,” tutur Prof. Harun.
Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh Dr. KH. Tafsir, M.Ag. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema tentang wajah Muhammadiyah yang inklusif di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu. Menurutnya, Muhammadiyah di Bali telah memberikan teladan nyata tentang Islam yang rahmatan lil alamin.
“Mayoritas masyarakat Bali adalah Hindu, namun Muhammadiyah mampu hadir menyatukan antara umat Islam dan Hindu dalam satu organisasi yang harmonis. Banyak warga Hindu yang bersekolah di sekolah-sekolah Muhammadiyah, bahkan tidak sedikit dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa di BIM University yang berasal dari saudara-saudara kita Hindu yang bekerja dan belajar bersama kita,” jelas KH Tafsir.
Ia menegaskan bahwa inilah wajah asli Muhammadiyah yang prinsip dasarnya adalah menghadirkan kemaslahatan untuk semua manusia, tanpa memandang latar belakang suku dan agama. Muhammadiyah hadir bukan untuk membuat jarak, melainkan untuk merajut persaudaraan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat.





Leave a Reply