DENPASAR — Pemerintah Kabupaten Balangan menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia unggul melalui pengembangan talenta, inovasi, dan kewirausahaan mahasiswa. Komitmen tersebut disampaikan Hj. Ernawati, S.STP., M.M., Plt. Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Balangan, saat mewakili Bupati Balangan dalam Kuliah Umum di BIM University, Denpasar.
Dalam paparannya, Ernawati menekankan bahwa pendidikan tinggi harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kreatif, adaptif, dan mampu mengubah ide menjadi solusi yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, talenta merupakan perpaduan antara bakat dan minat yang perlu diasah melalui proses pendidikan hingga melahirkan inovasi bernilai ekonomi.
“Talenta berawal dari bakat dan minat. Ketika diasah melalui pendidikan, ia akan melahirkan inovasi, dan inovasi itulah yang kemudian dapat berkembang menjadi entrepreneurship yang memberikan nilai tambah bagi diri sendiri maupun daerah,” ujarnya.

Beasiswa sebagai Investasi Masa Depan
Ernawati menjelaskan bahwa salah satu strategi utama Pemkab Balangan dalam meningkatkan kualitas SDM adalah melalui Program Beasiswa 1.000 Sarjana. Meski namanya mengusung angka seribu, program tersebut bersifat target minimal. Hingga 2026, pemerintah daerah telah membiayai sekitar 3.780 mahasiswa yang menempuh pendidikan di sekitar 60 perguruan tinggi di Indonesia.
Pembiayaan diberikan dalam bentuk bantuan UKT atau SPP selama masa studi sesuai ketentuan yang berlaku. Baginya, program tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan investasi jangka panjang untuk melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan Balangan.
“Pendidikan harus dipandang sebagai investasi, bukan biaya. Manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang ketika para lulusan kembali memberi kontribusi bagi daerah,” katanya.
Hilirisasi Dimulai dari Potensi Lokal
Pada kuliah umum tersebut, Ernawati juga mengajak mahasiswa melihat hilirisasi sebagai proses mengubah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah melalui riset dan inovasi. Ia mencontohkan mandai, olahan kulit cempedak khas masyarakat Banjar, yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk pangan modern.
Menurutnya, mahasiswa dapat berperan melalui penelitian mengenai kandungan gizi, diversifikasi olahan, inovasi kemasan, hingga strategi pemasaran sehingga produk lokal mampu memiliki daya saing yang lebih luas.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi generasi muda Balangan. Mandai jangan berhenti sebagai makanan tradisional, tetapi bisa dikembangkan menjadi produk inovatif melalui riset,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hilirisasi tidak selalu identik dengan teknologi tinggi. Kreativitas, ilmu pengetahuan, dan keberanian berwirausaha menjadi modal penting untuk meningkatkan nilai ekonomi potensi daerah.
Kolaborasi Kampus dan Pemerintah
Ernawati menilai sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Pemerintah menghadirkan kebijakan dan dukungan pembangunan, sedangkan kampus menyediakan riset, pendampingan akademik, serta ruang lahirnya gagasan baru.
Menurutnya, BIM University memiliki posisi strategis karena berada di Bali, lingkungan yang kaya akan praktik industri pariwisata, budaya, ekonomi kreatif, dan teknologi. Kondisi tersebut memberikan pengalaman belajar yang relevan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah potensi dapat diolah menjadi produk dan layanan yang bernilai.
“Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi menyatukan dua kekuatan besar untuk mencetak SDM Balangan yang unggul, inovatif, dan mampu bersaing secara global,” ungkapnya.
Talenta Digital untuk Balangan Maju
Selain sektor pangan, Pemkab Balangan juga menaruh perhatian pada pengembangan talenta digital. Transformasi pemerintahan dan pembangunan daerah, kata Ernawati, membutuhkan generasi muda yang menguasai teknologi informasi sekaligus memahami kebutuhan masyarakat.
Ia berharap lahir lebih banyak lulusan di bidang teknologi informasi, pertanian, maupun disiplin ilmu lainnya yang mampu menghadirkan solusi bagi daerah, bukan sekadar menjadi pencari kerja.
“Mindset bahwa setelah lulus harus menjadi ASN perlu diubah. Peluang untuk berkarya sangat luas. Kreativitas dan keterampilan adalah modal utama untuk menciptakan masa depan,” tegasnya.
Melalui kolaborasi dengan BIM University, Pemkab Balangan berharap para penerima beasiswa dan mahasiswa asal Balangan tumbuh sebagai agent of change yang mampu menghubungkan pendidikan, riset, inovasi, dan kewirausahaan menjadi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.








Leave a Reply