Peta Jalan Rekonstruksi Peradaban Islam 

Perspektif Siklus Kehidupan dan Pembangunan Kelembagaan Ekonomi Politik  Oleh: Suwarsono Muhammad  Tulisan ini dibuat hanya dengan satu alasan pokok. Setiap ada acara akademik tentang buku Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan—yang mulai berlangsung sejak buku tersebut terbit pada tahun 2023—hampir dapat dipastikan muncul tiga pertanyaan penting sebagai berikut: Berbagai pertanyaan tersebut bukan tidak mungkin juga ditemukan pada…


whc2t Avatar

·

5–7 minutes

Perspektif Siklus Kehidupan dan Pembangunan Kelembagaan Ekonomi Politik 

Oleh: 
Suwarsono Muhammad 

Tulisan ini dibuat hanya dengan satu alasan pokok. Setiap ada acara akademik tentang buku Kapitalisme Religius: Peradaban Islam Masa Depan—yang mulai berlangsung sejak buku tersebut terbit pada tahun 2023—hampir dapat dipastikan muncul tiga pertanyaan penting sebagai berikut:

  1. Apa strategi rekonstruksi yang lebih rinci, termasuk tahapan dan peta jalan yang perlu dilalui, untuk membangun kembali peradaban Islam?
  2. Siapa aktor utama yang hendak terlibat dalam proses rekonstruksi tersebut?
  3. Tidak kalah pentingnya, kapan (waktu) kebangkitan peradaban tersebut hendak berlangsung dan dicapai?

Berbagai pertanyaan tersebut bukan tidak mungkin juga ditemukan pada acara lain dengan tema serupa. Pada mulanya hanya berhenti sekadar sebagai kegelisahan, yang semakin hari terasa semakin menumpuk, bahkan menggunung membebani. Setelah menunggu beberapa tahun, barulah kini ada sedikit keberanian untuk mencoba memberikan jawaban atas tiga pertanyaan sulit tetapi relevan tersebut.

Dengan kata lain, jika dibuat sederhana, pertanyaan pokok yang diajukan dalam tulisan ini adalah: apa rencana dan bagaimana implementasi strategi rekonstruksi peradaban Islam secara rinci?

Hanya ada ruang sempit untuk memberikan sangkalan bahwa peradaban Islam telah lama berada dalam posisi menurun secara berkelanjutan, sekalipun ditemukan perbedaan waktu untuk mengenali kapan sesungguhnya periode penurunan itu dimulai. Sepertinya kesadaran kolektif terhadap fenomena tersebut juga mulai terbentuk dan berkembang secara positif (Muhammad, 2023: 17–69; 2017: 19–45).

Tidak kalah pentingnya, juga mulai ditemukan sekelompok kecil cendekiawan dunia yang memberikan perhatian dan mengusulkan rancangan strategi rekonstruksi peradaban Islam di masa depan, sekalipun hampir semua menu yang disajikan masih merupakan menu pembuka, bukan menu utama (Muhammad, 2023: 72–101).

Kerinduan untuk meraih kejayaan kembali kadang terasa berlebihan. Berbagai rumusan strategi tersebut masih bersifat garis besar dan ditulis dalam bentuk ringkas. Belum ditemukan tulisan yang relatif rinci dan berdiri sendiri yang secara khusus menjawab persoalan masa depan.

Mereka yang memberikan perhatian ini diharapkan pada saatnya akan menjadi dan berperan sebagai salah satu cikal bakal kelompok creative minority (minoritas kreatif), yaitu aktor perubahan sejarah yang nantinya perlu bekerja sama dengan aktor minoritas kreatif lainnya.

Untuk mencoba memberikan jawaban atas tiga pokok persoalan di atas, tulisan ini bersandar pada tiga perspektif pokok, yaitu:

  1. Siklus kehidupan peradaban (the life cycle of civilization);
  2. Strategi penyehatan perusahaan yang hendak diimpor untuk dimodifikasi dan dikembangkan dalam skala peradaban;
  3. Pembangunan ekonomi politik kelembagaan.

Perspektif pertama dibangun oleh Arnold J. Toynbee (1987/1946) dalam buku A Study of History, kemudian dilengkapi dengan teori serupa yang disusun oleh Stephen Blaha (2002) dalam buku The Life Cycle of Civilizations, yang sejatinya merupakan pengembangan kuantitatif dari apa yang secara prinsip telah dibangun oleh Toynbee.

Di samping itu, digunakan pula perspektif daur hidup peradaban yang dibuat oleh Oswald Spengler (2006/1959) dalam buku The Decline of the West serta buku The Law of Civilization and Decay karya Brooks Adams (1986/1951). Perspektif tersebut dilengkapi dengan berbagai tulisan dan buku lain yang memiliki tema serupa, yang pada umumnya merupakan tafsir lanjutan, kritik, maupun pengembangan yang diberikan oleh akademisi lain terhadap tema daur hidup peradaban.

Perspektif kedua yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari teori strategi penyehatan perusahaan (corporate turnaround), terutama yang berkaitan dengan proses dan isi strategi, setelah terlebih dahulu dilakukan modifikasi dan pengembangan pada skala yang lebih makro, yaitu peradaban.

Dengan demikian diharapkan dapat disusun strategi penyehatan peradaban (civilization turnaround), baik dari sisi substansi strategi maupun proses (tahapan) rekonstruksinya.

Pilihan ini dilakukan karena sampai sejauh ini belum ditemukan buku ataupun artikel jurnal ilmiah yang secara eksplisit dan mendalam membahas proses maupun substansi strategi rekonstruksi peradaban setelah mengalami disintegrasi dan keruntuhan.

Tulisan yang tersedia pada umumnya hanya membahas daur hidup peradaban sejak masa kelahiran, pertumbuhan, hingga periode kemunduran. Disadari bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara perusahaan dan peradaban. Oleh karena itu, diperlukan modifikasi yang cukup berarti sebelum teori tersebut dapat diadopsi.

Perspektif ketiga yang digunakan dalam tulisan ini adalah pembangunan ekonomi politik kelembagaan, yang antara lain diperoleh dari karya Douglas C. North dan koleganya, seperti The Rise of the Western World (2009/1973) dan Institutions, Institutional Change and Economic Performance (1990).

Perspektif tersebut dilengkapi dengan berbagai tulisan lain yang memiliki tema serupa, misalnya A Culture of Growth (2016) karya Joel Mokyr, beserta berbagai tulisan lain mengenai ekonomi kelembagaan. Selain itu, digunakan pula referensi yang lebih mutakhir, seperti karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson (2012; 2019), serta berbagai karya mengenai kelembagaan ekonomi dan politik dunia Islam, misalnya tulisan Timur Kuran (2004; 2011; 2023), yang juga dilengkapi dengan berbagai literatur kontemporer lainnya.


Sajian Menu Toynbee: Mencari Alasan

Ditemukan setidaknya tiga alasan pokok yang menjadi dasar mengapa teori daur hidup peradaban yang dibangun oleh Arnold Toynbee dalam buku A Study of History, yang disajikan dalam bentuk ringkasan oleh D. C. Somervell (1987/1946), dipilih sebagai perspektif utama.

Ketiga pertimbangan tersebut adalah:

  1. alasan metodologis;
  2. substansi teori yang dibangun; dan
  3. unsur praktikalitas.

Alasan yang terakhir tersebut sesungguhnya merupakan pengembangan lebih lanjut yang dilakukan oleh Stephen Blaha (2001–2002) melalui upaya mengkuantifikasikan apa yang telah ditulis oleh Toynbee.


Siklus Kehidupan Peradaban: Sebab dan Aktor

Sekalipun pada mulanya berasal dari biologi organisme, perspektif daur kehidupan (the life cycle perspective) mengalami migrasi dan berkembang lebih jauh ke dalam disiplin ilmu organisasi, manajemen, dan strategi (Muhammad, 2017).

Dalam manajemen pemasaran maupun manajemen strategi dikenal alat analisis berupa matriks daur hidup produk (product life cycle) maupun matriks daur hidup industri (industry life cycle). Demikian pula dalam manajemen organisasi publik serta tata kelola organisasi.

Tidak mau ketinggalan, berkembang pula perspektif siklus hidup perusahaan (organisasi), baik dalam bentuk model sederhana yang hanya terdiri atas dua fase—tumbuh dan mati—maupun model yang lebih kompleks dengan berbagai tahapan perkembangan.

Oleh karena itu, di samping berkembangnya berbagai strategi pertumbuhan (growth strategy), juga dikembangkan desain strategi penyehatan organisasi (turnaround strategy atau recovery strategy).

Ternyata perspektif tersebut juga sangat dikenal dalam perdebatan mengenai pasang naik dan surut suatu peradaban.

Brooks Adams, Oswald Spengler, dan Arnold Toynbee acapkali diakui sebagai tiga tokoh besar yang melahirkan perspektif siklus kehidupan peradaban (the life cycle of civilizations).

Pokok-pokok pikiran Toynbee kemudian diterjemahkan secara kuantitatif oleh Stephen Blaha. Dalam skala yang berbeda, muncul pula nama-nama lain seperti Paul Kennedy dan Edward Gibbon yang secara lebih spesifik memberikan perhatian pada daur hidup negara adikuasa (empire).

Ketiga tokoh yang disebut pertama juga dinilai memberikan perhatian lebih mendalam terhadap proses penurunan dan keruntuhan peradaban. Oleh karena itu, mereka sering disebut sebagai “prophets of decline.”

Di sisi lain, muncul pula penilaian bahwa perspektif yang mereka ajukan merupakan aliran pesimistis, seolah-olah setiap peradaban pada akhirnya pasti mengalami kematian tanpa memiliki peluang untuk bangkit kembali.

Penilaian seperti ini tampaknya tidak sepenuhnya berlaku bagi Toynbee, karena ia masih membuka kemungkinan bagi proses rekonstruksi peradaban.

Benar adanya bahwa momentum kemunculan perspektif daur hidup peradaban yang mereka ajukan tampaknya tidak berlangsung pada waktu yang tepat. Namun justru dalam momentum yang agak ganjil tersebut, teori yang mereka sajikan memperoleh sambutan yang cukup luas.

Pengecualian tampaknya terjadi pada gagasan Brooks Adams yang tidak sepopuler pemikiran Oswald Spengler maupun Arnold Toynbee.

** Naskah ditulis dari prespektif akademis dan profesional penulis. Alat AI hanya digunakan untuk visualisasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *