Kuala Lumpur, 1 Oktober 2026 — Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Kemitraan Internasional (KKN KI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) Angkatan ke-15 resmi dimulai. Pembukaan kegiatan ditandai dengan agenda penguatan dan pembekalan bagi mahasiswa serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang dilaksanakan di Aula Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Gedung Pusat Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di Kuala Lumpur, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan KKN KI PTMA Angkatan ke-15 akan berlangsung selama 27 hari, mulai 1 hingga 27 Oktober 2026. Program ini diikuti oleh 151 mahasiswa dari 14 Perguruan Tinggi di Indonesia. Para mahasiswa akan melaksanakan berbagai kegiatan pengabdian dan pembelajaran di sejumlah wilayah di Malaysia, meliputi Semenanjung Kuala Lumpur, Johor Bahru, serta Penang.
Kegiatan tersebut dihadiri dan diperkuat oleh Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, Rektor Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM) sekaligus Koordinator KKN Kemitraan Internasional PTMA. Dalam arahannya, Prof. Harun menekankan bahwa KKN internasional bukan sekadar kegiatan akademik untuk memenuhi kewajiban kurikuler, tetapi merupakan ruang pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan masyarakat dan lingkungan yang berbeda.
“Pada hakikatnya, program ini menjadi pembelajaran penting bagi diri kalian. Kalian akan belajar tentang empat hal, yaitu hidup, kehidupan, penghidupan, dan berkehidupan,” tutur Prof. Harun.
Menurutnya, keempat aspek tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter mahasiswa. Hidup berkaitan dengan kemampuan mahasiswa untuk mengenali dan mengelola dirinya sendiri. Kehidupan mengajarkan mahasiswa memahami realitas sosial serta dinamika masyarakat. Sementara penghidupan memberikan pengalaman mengenai bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dan menjalankan peran secara produktif. Adapun berkehidupan mengajarkan mahasiswa untuk mampu hidup berdampingan, membangun relasi, berkomunikasi, serta berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Prof. Harun menyampaikan bahwa pengalaman internasional juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar mengenai keberagaman. Mahasiswa akan berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, bahasa, kebiasaan, dan lingkungan sosial yang beragam.
“Di sini kalian tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama perguruan tinggi, keluarga, dan Muhammadiyah. Karena itu, manfaatkan kesempatan ini untuk belajar memahami perbedaan, membangun komunikasi, menghargai budaya setempat, serta menunjukkan sikap sebagai mahasiswa yang mampu beradaptasi di lingkungan internasional,” imbuhnya.
Prof. Harun juga mengingatkan mahasiswa untuk memegang teguh prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Menurutnya, prinsip tersebut menjadi pegangan penting bagi mahasiswa selama berada di Malaysia, khususnya dalam menghormati nilai, norma, budaya, serta tata kehidupan masyarakat setempat.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ketika kalian berada di Malaysia, maka hormatilah budaya dan aturan yang berlaku di sini. Jadilah tamu yang baik, mampu menempatkan diri, menghargai perbedaan, dan menjaga nama baik Indonesia serta perguruan tinggi masing-masing,” pesan Prof. Harun.
Ia menambahkan bahwa kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari pembelajaran dalam KKN Kemitraan Internasional. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menjalankan program kerja, tetapi juga belajar membaca situasi, memahami karakter masyarakat, membangun komunikasi yang tepat, serta menempatkan diri secara bijaksana di tengah lingkungan yang berbeda.
Menurut Prof. Harun, keberagaman yang ditemui selama pelaksanaan KKN hendaknya tidak dipandang sebagai sebuah perbedaan yang memisahkan, melainkan sebagai sumber pembelajaran. Interaksi langsung dengan masyarakat Malaysia diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus membangun kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan berkolaborasi lintas budaya.
Sementara itu, dalam sambutan sekaligus pembekalan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Kuala Lumpur, Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN, menyampaikan pentingnya mahasiswa memahami karakteristik lingkungan sosial dan budaya masyarakat Malaysia selama menjalankan program KKN.
Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, bahasa, dan hubungan masyarakat yang kuat sehingga sering disebut sebagai negara serumpun. Namun, kedekatan tersebut tidak berarti bahwa mahasiswa dapat mengabaikan norma, aturan, serta batas-batas sosial yang berlaku di masyarakat Malaysia.
“Kita perlu memahami bahwa Malaysia dan Indonesia bisa dibilang serumpun. Namun, perlu diingat bahwa ketika berada di sini, kalian tetap harus menjaga sikap dan memahami batasan-batasan yang berlaku di masyarakat setempat,” jelas Ahmad Romadhoni.
Ia menekankan bahwa mahasiswa perlu menunjukkan sikap sopan, santun, menghargai norma dan budaya lokal, serta menjaga etika dalam berinteraksi dengan masyarakat. Mahasiswa juga diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa kehilangan identitas sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dan keluarga besar PTMA.
Selain itu, mahasiswa diminta untuk menjaga nama baik Indonesia selama berada di Malaysia. Setiap tindakan dan komunikasi yang dilakukan selama kegiatan KKN dapat menjadi bagian dari representasi Indonesia di mata masyarakat setempat. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengedepankan sikap saling menghormati, toleransi, serta kehati-hatian dalam menggunakan media sosial maupun berkomunikasi di ruang publik.
Pembekalan tersebut menjadi semakin penting karena pelaksanaan KKN KI PTMA Angkatan ke-15 tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program kerja, tetapi juga pada pembentukan pengalaman internasional mahasiswa. Melalui interaksi dengan masyarakat dan mitra di Malaysia, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi akademik, sosial, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan adaptasi lintas budaya.
KKN Kemitraan Internasional PTMA Angkatan ke-15 yang melibatkan 14 perguruan tinggi dan 151 mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi PTMA dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat di tingkat internasional.
Selama pelaksanaan pada 1–27 Oktober 2026, mahasiswa akan melaksanakan berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan mitra di Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Penang. Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat penerima program, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan untuk hidup, beradaptasi, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Dengan dimulainya KKN KI PTMA Angkatan ke-15 ini, para mahasiswa dan DPL diharapkan dapat menjalankan seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh tanggung jawab, menjaga etika, serta membawa semangat pengabdian dan kolaborasi sebagai bagian dari kontribusi PTMA di tingkat internasional.





Leave a Reply