Yogyakarta — Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) kini semakin banyak dimanfaatkan untuk mendukung penelitian astronomi, termasuk dalam proses pengamatan dan analisis hilal. Dalam upaya mengintegrasikan teknologi AI dengan observasi hilal, Adi Jufriansah, dosen BIM University, terlibat sebagai AI Engineer dalam penelitian hilal yang saat ini memasuki tahun kedua pelaksanaan.
Penelitian tersebut merupakan Penelitian Fundamental Reguler Tahun ke-2 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Penelitian ini dikembangkan melalui kolaborasi lintas institusi dan bidang keilmuan yang melibatkan akademisi, peneliti, serta jaringan observatorium di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.
Kolaborasi penelitian melibatkan Master of Physics Education, Universitas Ahmad Dahlan; Department of Electrical Engineering, Universitas Ahmad Dahlan; Department of Informatics, Universitas Ahmad Dahlan; Master Program of Informatics, Universitas Ahmad Dahlan; Pusat Studi Astronomi, Universitas Ahmad Dahlan; Observatorium Ilmu Falaq (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara; serta Observatorium Universitas Muhammadiyah Makassar.
Keterlibatan berbagai disiplin tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem yang tidak hanya berorientasi pada aspek astronomi, tetapi juga mengintegrasikan teknologi komputasi, kecerdasan artifisial, pengolahan citra, sistem informasi, serta kebutuhan observasi hilal secara langsung.

Berperan sebagai AI Engineer
Dalam tim penelitian, Adi Jufriansah mengambil peran sebagai AI Engineer, dengan fokus pada pengembangan dan implementasi teknologi kecerdasan artifisial untuk membantu proses pengolahan dan analisis data hilal.
Peran tersebut mencakup sejumlah tahapan penting, mulai dari merancang arsitektur AI, melakukan preprocessing dan pengolahan data citra, mengembangkan model computer vision untuk mendeteksi karakteristik hilal, melakukan pelatihan dan pengujian model, hingga mengintegrasikan model AI ke dalam sistem yang dapat digunakan untuk pemrosesan secara real time.
Selain membangun model, AI Engineer juga bertanggung jawab memastikan model yang dikembangkan dapat bekerja secara stabil ketika diterapkan pada kondisi observasi sebenarnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena data hilal memiliki karakteristik yang kompleks, seperti intensitas cahaya yang sangat rendah, gangguan atmosfer, awan, noise pada citra, perubahan kondisi pencahayaan, serta posisi hilal yang berubah sesuai waktu dan lokasi pengamatan.
Dengan demikian, AI tidak ditempatkan sebagai pengganti proses observasi atau keputusan astronomis, tetapi sebagai teknologi pendukung untuk meningkatkan efisiensi, konsistensi, dan kemampuan analisis data hasil observasi.
“Saat ini progress kami sudah 85% dan sudah sukses melakukan proses real time khususnya untuk citra hilal siang hari,” ujar Adi Jufriansah, dosen BIM University, terkait perkembangan pengembangan sistem AI dalam penelitian tersebut.
Melibatkan Tim Ahli Hilal dari Observatorium Bosscha
Untuk memastikan teknologi yang dikembangkan tetap memiliki landasan ilmiah dan sesuai dengan kebutuhan observasi hilal, tim penelitian juga telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama tim Observatorium Bosscha.
Tim Observatorium Bosscha dilibatkan sebagai tim ahli dalam bidang hilal sekaligus dalam proses verifikasi software yang dikembangkan. Kolaborasi ini menjadi salah satu tahapan penting karena sistem berbasis AI tidak cukup hanya dinilai berdasarkan performa komputasional, tetapi juga perlu diverifikasi dari perspektif astronomi dan observasi hilal.
Melalui proses tersebut, pengembangan sistem dilakukan secara lebih terarah dengan mempertemukan dua perspektif utama: keahlian astronomi dalam memahami karakteristik hilal dan keahlian teknologi AI dalam melakukan deteksi serta analisis data secara komputasional.
FGD dan proses verifikasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa perangkat lunak yang dikembangkan dapat memberikan keluaran yang relevan bagi para pengamat dan peneliti hilal.

Teknologi AI untuk Mendukung Observasi Hilal
Pengembangan teknologi dalam penelitian ini diarahkan untuk membangun sistem yang mampu memproses data observasi secara lebih cepat dan sistematis. AI dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi objek hilal pada citra, melakukan analisis karakteristik visual, mengurangi pengaruh noise, serta memberikan informasi pendukung bagi proses pengamatan.
Kemampuan real-time processing menjadi salah satu capaian penting dalam penelitian ini. Dengan sistem tersebut, data dari perangkat observasi dapat diproses secara langsung sehingga hasil analisis dapat diperoleh dalam waktu yang lebih singkat.
Pengembangan ini juga membuka peluang integrasi lebih lanjut antara observatorium, perangkat observasi digital, computer vision, artificial intelligence, dan sistem informasi astronomi dalam satu ekosistem teknologi.
Namun, sistem AI tetap ditempatkan sebagai perangkat bantu. Validasi dan interpretasi akhir tetap membutuhkan keahlian astronomi serta prosedur observasi yang sesuai.
Bagian dari Komitmen Mendukung Kalender Hijriah Global Tunggal
Lebih jauh, penelitian ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi, tetapi juga memiliki konteks yang lebih luas dalam mendukung pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Pengembangan sistem observasi dan analisis hilal berbasis teknologi menjadi salah satu bentuk komitmen untuk memperkuat ekosistem riset astronomi di lingkungan Muhammadiyah, khususnya melalui Muhammadiyah Observatorium Network (MuON).
MuON merupakan jaringan yang menghimpun observatorium di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah. Keberadaan jaringan tersebut membuka peluang terbentuknya ekosistem observasi yang lebih terintegrasi, dengan dukungan teknologi digital dan AI untuk pengumpulan, pengolahan, serta analisis data astronomi.
Dalam konteks tersebut, pengembangan software berbasis AI diharapkan tidak berhenti pada satu lokasi observatorium saja. Teknologi yang dikembangkan berpotensi menjadi bagian dari sistem yang dapat mendukung kolaborasi dan pertukaran data antarobservatorium dalam jaringan.
Menghubungkan Astronomi dan Artificial Intelligence
Keterlibatan dosen dari bidang teknologi informasi dalam penelitian hilal menunjukkan bahwa perkembangan astronomi modern semakin membutuhkan pendekatan multidisiplin.
Astronomi menyediakan pemahaman mengenai fenomena dan parameter hilal, sementara bidang teknik elektro, informatika, pendidikan fisika, serta kecerdasan artifisial memberikan kontribusi dalam membangun sistem observasi dan analisis yang lebih modern.
Kolaborasi seperti ini diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga memiliki manfaat praktis bagi pengembangan observatorium dan ekosistem penelitian astronomi di Indonesia.
Dengan progres penelitian yang telah mencapai sekitar 85 persen dan keberhasilan menjalankan proses secara real time, tim kini memasuki tahap penyempurnaan sistem, pengujian lebih lanjut, serta validasi untuk memastikan teknologi dapat bekerja secara optimal pada berbagai kondisi observasi.
Penelitian ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan Artificial Intelligence tidak terbatas pada sektor industri dan teknologi, tetapi juga dapat berkontribusi pada bidang astronomi, khususnya dalam mendukung pengamatan hilal dan pengembangan sistem kalender Hijriah berbasis data dan teknologi.






Leave a Reply