Dari Dapur Keluarga ke Hotel dan Toko Oleh-Oleh, Mahasiswa Kewirausahaan BIM University Angkat Bisnis Peyek Tradisional sebagai Tugas Akhir

DENPASAR — Berawal dari usaha keluarga yang memproduksi makanan tradisional, Mutia Devi Rosita Rachma mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (UBIM) menjadikan bisnis peyek tradisional sebagai objek tugas akhir. Menariknya, produk yang dikembangkan keluarga tersebut telah berhasil memperluas pasar hingga masuk ke sejumlah hotel dan toko oleh-oleh yang ada di Bali. Pengangkatan usaha…


Eko Purnomo Avatar

·

3–4 minutes


DENPASAR — Berawal dari usaha keluarga yang memproduksi makanan tradisional, Mutia Devi Rosita Rachma mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (UBIM) menjadikan bisnis peyek tradisional sebagai objek tugas akhir. Menariknya, produk yang dikembangkan keluarga tersebut telah berhasil memperluas pasar hingga masuk ke sejumlah hotel dan toko oleh-oleh yang ada di Bali. Pengangkatan usaha keluarga sebagai tugas akhir menjadi bentuk nyata penerapan pembelajaran kewirausahaan di lingkungan UBIM. Mahasiswa tidak hanya menyusun tugas akhir berdasarkan kajian teoritis, tetapi terjun langsung mengidentifikasi berbagai persoalan dan peluang yang terdapat dalam bisnis keluarga.

Peyek sebagai salah satu makanan tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan. Cita rasa yang khas, daya simpan yang relatif panjang, serta tingginya minat masyarakat terhadap produk makanan tradisional menjadi peluang untuk memperluas pasar. Perjalanan usaha tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak hanya dapat dipasarkan kepada konsumen lokal, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Masuknya produk ke hotel dan toko oleh-oleh menjadi salah satu indikator bahwa produk keluarga tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan pasar di luar lingkungan konsumen sehari-hari.

Usaha Keluarga Menjadi Laboratorium Kewirausahaan

Dalam penyusunan tugas akhir, mahasiswa melakukan analisis terhadap berbagai aspek bisnis yang dijalankan oleh keluarga. Kajian tidak hanya berfokus pada produk peyek, tetapi juga mencakup bagaimana usaha tersebut dikelola dan dikembangkan. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain manajemen sumber daya manusia, proses produksi, pengadaan bahan baku, pengemasan, pemasaran, pengelolaan keuangan, distribusi, hingga strategi pengembangan pasar. Pengalaman mengelola bisnis keluarga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi bisnis yang sebenarnya.

“Usaha keluarga ini menjadi laboratorium pembelajaran yang sangat nyata. Mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana sebuah produk tradisional diproduksi, dipasarkan, menghadapi persaingan, dan kemudian berkembang hingga mampu masuk ke hotel dan toko oleh-oleh,” ujar Dr. Cuk Taruna Hendrajaya,S.E.,.M.M., dosen pembimbing tugas akhir.

Tidak Sekadar Membuat Produk, tetapi Membangun Sistem Bisnis

Salah satu keunggulan tugas akhir ini adalah mahasiswa tidak berhenti pada pengembangan produk. Fokus utama diarahkan pada bagaimana membangun sistem manajemen usaha sehingga bisnis keluarga dapat berkembang secara lebih profesional. Mahasiswa melakukan pemetaan terhadap kondisi usaha saat ini dan mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki. Hasil analisis kemudian digunakan untuk menyusun rekomendasi pengembangan yang dapat diterapkan oleh pemilik usaha.

Pengembangan tersebut meliputi penataan proses operasional, pembagian tugas dan tanggung jawab, penguatan strategi pemasaran, pencatatan keuangan, peningkatan kualitas kemasan dan branding, serta strategi memperluas jaringan pemasaran. Dengan demikian, tugas akhir tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah karya akademik, tetapi juga memberikan output nyata bagi keberlanjutan usaha keluarga.

Mengangkat Kuliner Tradisional agar Naik Kelas

Pemilihan peyek sebagai objek tugas akhir juga memiliki nilai strategis dalam pengembangan kewirausahaan berbasis potensi lokal. Produk makanan tradisional memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi yang dapat terus dikembangkan melalui inovasi bisnis. Masuknya peyek ke hotel dan toko oleh-oleh menunjukkan bahwa produk tradisional memiliki peluang untuk bersaing apabila dikelola dengan memperhatikan kualitas produk, konsistensi produksi, kemasan, branding, pemasaran, serta kebutuhan konsumen. Hal tersebut menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa bahwa kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan produk yang benar-benar baru. Produk yang sudah ada pun dapat dikembangkan melalui inovasi, profesionalisasi pengelolaan, dan perluasan pasar.

Tugas Akhir yang Berdampak Langsung

Program Studi Kewirausahaan UBIM terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan tugas akhir yang memiliki keterkaitan dengan dunia usaha dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui model tugas akhir berbasis bisnis keluarga, mahasiswa mendapatkan pengalaman sebagai entrepreneur sekaligus business problem solver. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menciptakan usaha, tetapi juga bagaimana mempertahankan dan mengembangkan usaha yang telah berjalan. Kisah peyek keluarga ini menjadi contoh bahwa usaha sederhana yang tumbuh dari lingkungan keluarga dapat memiliki peluang untuk berkembang menjadi bisnis dengan jangkauan pasar yang lebih luas. Dari dapur keluarga, produk tradisional tersebut kini telah hadir di hotel dan toko oleh-oleh. Melalui tangan mahasiswa, perjalanan tersebut kemudian dikaji secara akademik dan dikembangkan menjadi sebuah sistem bisnis yang diharapkan mampu membawa usaha keluarga menuju tahap pertumbuhan yang lebih profesional dan berkelanjutan.

Dari usaha keluarga, menjadi karya akademik. Dari makanan tradisional, menjadi peluang bisnis yang bernilai ekonomi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *