Delegasi BKSAP DPR RI Bahas AI: Dari Pengguna Menuju Pemroduksi AI di BIM University

DENPASAR — Bali International Muhammadiyah University (BIM University) menjadi ruang strategis dialog nasional mengenai masa depan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) melalui kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI bertema “Diseminasi Diplomasi Parlemen di Era AI”, yang berlangsung di Auditorium BIM University, Rabu (26/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini mempertemukan legislator, akademisi,…


Eko Purnomo Avatar

·

3–5 minutes


DENPASAR — Bali International Muhammadiyah University (BIM University) menjadi ruang strategis dialog nasional mengenai masa depan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) melalui kunjungan kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI bertema “Diseminasi Diplomasi Parlemen di Era AI”, yang berlangsung di Auditorium BIM University, Rabu (26/8/2026). Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid ini mempertemukan legislator, akademisi, dosen, dan mahasiswa untuk membahas transformasi Indonesia dari sekadar pengguna AI menuju pemroduksi teknologi AI.

Delegasi BKSAP DPR RI dipimpin oleh Ketua BKSAP Dr. Syahrul Aidi Maazat, L.C., M.A., didampingi Wakil Ketua Irine Yusiana Roba Putri, S.Sos., M.Comn&MediaSt., Muhammad Husein Fadlulloh, B.Bus., M.M., M.B.A., dan Bramantyo Suwondo, M.IR. Turut hadir anggota DPR RI Denny Cagur, S.Pd., Trinovi Khairani, B.A., Andina Thresia Narang, B.Comm., Drs. H. Andi Muawiyah Ramly, M.Si., Habib Aboe Bakar Alhabsyi, S.E., serta Faujia Belga Br. Tampubolon. Delegasi juga didampingi perwakilan Sekretariat Jenderal DPR RI yang dipimpin Saeful Anwar, S.IP., M.E.

Rektor BIM University Prof. Dr. Harun Joko Prayitno menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga mampu menciptakan inovasi berbasis teknologi tersebut.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai konsumen produk digital global. Kampus harus menjadi pusat lahirnya riset, talenta, dan solusi teknologi yang memberikan nilai tambah bagi bangsa.

“Kami merasa terhormat menerima kunjungan Delegasi BKSAP DPR RI. Semoga kerja sama ini dapat terus berlanjut, memberikan dampak, berkontribusi, dan menghadirkan manfaat sebesar-besarnya untuk umat. Perguruan tinggi harus menjadi lokomotif lahirnya inovasi AI yang berakar pada kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujar Prof. Harun.

Ia menambahkan bahwa BIM University terus mendorong kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah agar mahasiswa mampu bertransformasi dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.

Ketua BKSAP DPR RI Dr. Syahrul Aidi Maazat menegaskan bahwa salah satu tujuan kunjungan kerja BKSAP adalah membawa isu-isu global yang selama ini dibahas dalam forum parlemen internasional ke lingkungan perguruan tinggi.

Ia menjelaskan bahwa AI kini menjadi agenda utama dalam berbagai pertemuan internasional karena memengaruhi tata kelola ekonomi, pendidikan, keamanan data, hingga diplomasi antarnegara.

“Kami ingin isu global yang kami bicarakan di forum-forum internasional tidak berhenti di ruang diplomasi. Kampus harus mengetahui, memahami, dan ikut merumuskan solusinya. Salah satu isu global paling penting hari ini adalah Artificial Intelligence,” ungkap Syahrul.

Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa dan dosen untuk mengubah paradigma terhadap AI.

“Jangan puas hanya menjadi pengguna aplikasi AI. Indonesia harus bergerak menjadi pemroduksi AI—membangun algoritma, mengembangkan riset, menciptakan platform, dan menghasilkan inovasi yang lahir dari kecerdasan anak bangsa. Itulah bentuk kedaulatan digital yang sesungguhnya,” tegasnya disambut tepuk tangan peserta.

Syahrul menilai perguruan tinggi memiliki modal intelektual untuk menghasilkan teknologi yang sesuai dengan karakter sosial dan budaya Indonesia, sehingga AI berkembang tanpa

Wakil Ketua BKSAP DPR RI Irine Yusiana Roba Putri menyoroti pentingnya membangun ekosistem AI nasional yang berpijak pada kekuatan sumber daya manusia Indonesia.

Menurutnya, Indonesia memiliki bonus demografi yang besar, tetapi potensi tersebut akan sia-sia apabila hanya dimanfaatkan sebagai pasar teknologi global.

“Kita memiliki potensi SDA dan SDM yang sangat besar. Persoalannya adalah apakah kita mampu mengelolanya. Jika tidak, maka sumber daya kita justru akan tereksplorasi oleh perkembangan AI yang dikuasai pihak lain,” ujarnya.

Irine menegaskan bahwa tata kelola AI tidak dapat dibangun secara parsial.

“Pemerintah dan parlemen tidak bisa bekerja sendiri. Perguruan tinggi harus menghasilkan riset, industri mengembangkan inovasi, dan masyarakat sipil menjaga etika teknologi. Kolaborasi global yang inklusif adalah fondasi agar Indonesia mampu menjadi produsen AI, bukan sekadar pengguna,” katanya.

Ia juga memperkenalkan peran BKSAP sebagai badan di DPR RI yang menjembatani kerja sama antarparlemen dunia dalam membahas berbagai isu strategis, termasuk transformasi digital dan regulasi AI.

Dialog semakin menarik ketika dosen BIM University Bayu Wardhana menyampaikan keresahan mengenai penggunaan AI di dunia pendidikan. Ia menilai kemudahan menghasilkan tulisan dan analisis melalui AI berpotensi mengurangi proses berpikir kritis mahasiswa apabila tidak disertai literasi digital yang memadai.

“Kampus tentu mendukung inovasi, tetapi kami juga memiliki tanggung jawab menjaga integritas akademik. Bagaimana AI dimanfaatkan tanpa menghilangkan orisinalitas berpikir menjadi pertanyaan penting bagi dunia pendidikan,” ungkap Bayu.

Menanggapi hal tersebut, Syahrul menegaskan bahwa regulasi saja tidak cukup mengendalikan perkembangan AI.

“Yang paling penting adalah membangun etika. Teknologi akan terus berkembang, tetapi karakter manusialah yang menentukan apakah AI menjadi alat pemberdayaan atau justru menjadi ancaman,” jawabnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang membahas keamanan data, hak cipta, pendidikan, hingga peluang Indonesia menjadi pemain utama dalam pengembangan AI di kawasan Asia Tenggara. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu AI bukan lagi persoalan masa depan, melainkan tantangan yang harus dijawab mulai dari ruang-ruang akademik.
Melalui kunjungan kerja ini, BKSAP DPR RI dan BIM University menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat diplomasi parlemen berbasis ilmu pengetahuan sekaligus mendorong transformasi Indonesia dari bangsa pengguna menuju bangsa pemroduksi AI melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *