Bandar Lampung – The 12th Progressive and Fun Education (ProfunEdu) International Conference 2026 kembali menjadi ruang strategis bagi para akademisi untuk memperkuat kolaborasi riset sekaligus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah bereputasi internasional. Konferensi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ALPTK PTMA) di Emersia Hotel, Bandar Lampung, Kamis (25/6/2026), mempertemukan dosen, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun mancanegara.
Pengurus ALPTK PTMA yang juga Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Dr. Anam Sutopo, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan konferensi tahun ini memperoleh respons yang sangat baik dari kalangan akademisi. Sebanyak 89 artikel ilmiah berhasil dihimpun dari 23 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah serta sejumlah perguruan tinggi swasta lainnya.
Menurutnya, seluruh artikel akan melalui proses penelaahan ilmiah sesuai standar akademik. Makalah yang memenuhi kriteria terbaik akan diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus, sedangkan artikel lainnya dipublikasikan dalam prosiding Atlantis Press.
“Melalui mekanisme ini, kami berharap kualitas publikasi ilmiah dosen semakin meningkat sekaligus memperluas jejaring kolaborasi penelitian antarperguruan tinggi,” ujarnya.
Konferensi internasional tahun ini mengangkat berbagai isu aktual mengenai masa depan pendidikan pada era kecerdasan artifisial. Beragam perspektif disampaikan oleh para pakar pendidikan dari Indonesia dan Malaysia yang menyoroti pentingnya inovasi pembelajaran, penguatan literasi digital, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Prof. Dr. Zulkardi dari Universitas Sriwijaya menjelaskan pentingnya mengintegrasikan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan pembelajaran STEAM agar peserta didik mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan keterampilan komputasional melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Prof. Dr. Amirullah Abduh dari Universitas Negeri Makassar menyoroti posisi bahasa sebagai modal strategis bangsa dalam menghadapi era kecerdasan artifisial. Menurutnya, penguasaan bahasa nasional maupun internasional akan menentukan kemampuan suatu bangsa dalam menghasilkan inovasi sekaligus menjaga identitas budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Perspektif internasional disampaikan oleh Dr. Miftachul Huda dari Universiti Pendidikan Sultan Idris, Malaysia. Ia menekankan bahwa literasi digital pada era AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan teknologi, tetapi juga mencakup kecakapan berpikir kritis, etika digital, keamanan informasi, serta tanggung jawab moral dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial.
Adapun Dr. Mardiana dari Universitas Muhammadiyah Lampung mengulas pentingnya pendidikan berbasis digital sebagai strategi menghadapi tantangan dunia yang bersifat VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity). Transformasi digital, menurutnya, menjadi kunci untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel sekaligus menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan.
Pembahasan mengenai inovasi pembelajaran juga diperkaya oleh Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas dari Universitas Ahmad Dahlan. Ia memaparkan bagaimana pemodelan komputasi dan simulasi digital mampu meningkatkan pemahaman konsep fisika, sekaligus mengembangkan kemampuan analitis dan penalaran ilmiah mahasiswa.
Ketua ALPTK PTMA yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta dan BIM University, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemakalah atas kontribusinya dalam konferensi internasional tersebut. Ia menilai ProfunEdu telah berkembang menjadi forum akademik yang tidak hanya memfasilitasi diseminasi hasil penelitian, tetapi juga memperkuat jejaring kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi.
Menurutnya, publikasi ilmiah yang dihasilkan melalui konferensi ini akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu tridarma perguruan tinggi, memperkuat budaya riset di lingkungan PTMA, mendukung akreditasi program studi dan institusi, serta meningkatkan rekognisi akademik dosen di tingkat internasional.
“Harapannya, ProfunEdu terus menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan inovasi pendidikan, memperluas kemitraan akademik, serta meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sehingga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia di era kecerdasan artifisial,” tuturnya.









Leave a Reply