Rekonstruksi Peradaban Islam – Proposal Kerjasama dan Damai dan Madzab Dominan

Suwarsono Muhammad
Menu Utama: Dari Sosialisme ke Kapitalisme Religius
Sosialisme atau kadangkala Sosialisme Religius selama ini hampir selalu menjadi strategi pilihan utama dalam membangun kembali (rekonstruksi) peradaban Islam, setelah dalam waktu yang relatif panjang peradaban Islam mengalami penurunan, kalah dibandingkan peradaban lain—terutama Barat—dan kini juga tampak jelas kalah bersaing dengan peradaban China yang sedang bangkit secara akseleratif. Strategi serupa juga banyak dipilih oleh negara-negara Dunia Ketiga yang umumnya merupakan negara berkembang setelah memperoleh kemerdekaan. Ada irisan tebal antara negara dunia ketiga dan peradaban Islam. Penduduk terbesar di negara berkembang pada umumnya beragama Islam. Pada masa itu, dunia berada dalam mode bipolar dan Perang Dingin.
Pilihan bersosialisme tersebut tidak heran menjadikan dunia Islam sering kali berada di luar garis edar tatanan dunia (world order) yang selama ini telah ada dan beroperasi, yang pada mulanya memang dirancang, dibangun, dan dikuasai oleh Barat. Bukan hal yang aneh jika kemudian pilihan ini lebih sering menimbulkan konflik antara peradaban Islam dan Barat. Pada masa-masa itu, sepertinya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kedua peradaban tersebut gagal berdialog, apalagi membangun kerja sama secara damai. Peradaban Islam, yang dalam operasinya dijalankan melalui negara-negara Islam, sepertinya lebih terbuka dalam berkomunikasi dengan belahan dunia lain—untuk kemudahan, sebut saja sebagai blok sosialis. Sampai pertengahan abad ke-15 H, pilihan strategi ini tidak kunjung menunjukkan hasil yang signifikan dan memuaskan. Ada perbaikan parsial, tidak menyeluruh. Ada yang menyebut adanya kemajuan yang dapat diraih oleh beberapa negara Islam, sekalipun jelas masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Timur.
Buku Kapirel ini tidak bermaksud menegasikan strategi sosialisme tersebut. Kapirel hanya diletakkan sebagai usulan alternatif rancangan strategi yang juga layak dipertimbangkan untuk dipilih. Ada justifikasi sejarah peradaban Islam. Peradaban Islam awal dapat disebut sebagai kapitalisme religius, dengan pemahaman bahwa kapitalisme tidak hanya lahir dan sepenuhnya menjadi milik Barat. Sebelum lahir dan berkembang di Barat pada abad delapan belas M, kapitalisme beserta variasinya telah lahir jauh sebelumnya di belahan dunia Timur—China, Islam, dan India. Di saat yang sama juga disajikan justifikasi dengan belajar dari kemajuan peradaban China kontemporer, yang jelas-jelas memilih doktrin dan strategi pasang naik dengan damai (peaceful rise), dengan kapitalisme negara (state capitalism). Ada kecemburuan terhadap kebangkitan kembali peradaban China—dan, dalam batas-batas tertentu, juga India. Kedua peradaban tersebut pada masa lalu yang agak jauh – kurang lebih pada abad kesebelas sampai abad keempat belas M – pernah bergandengan mesra dengan Islam dalam posisi yang sama-sama unggul ketika itu dunia berada pada mode multilateral (lihat Abu-Lughot, 1989; Acharya, 2025; Kocka, 2018; Rodinson, 2007/1974; dan Sachs, 2020). Rasanya sudah lebih dari sekadar rindu untuk merekonstruksi dan meraih kembali posisi strategis yang pernah digenggam oleh peradaban Islam masa lalu, sebagaimana ditegaskan oleh Acharya (2025: 141-154) sebagai “Rejuvenating the World.”
Dalam buku Kapirel ini ditemukan elemen-elemen ekonomi makro dan ekonomi politik, geopolitik dan hubungan internasional, termasuk hegemoni dan imperium bersama jebakan Thucydides, pasang naik dan surut peradaban, sejarah perkembangan kapitalisme Barat dan Timur, dan yang paling penting, sejarah panjang peradaban Arab Kuno dan Islam. Isi detail Kapirel akan disajikan oleh para pembahas, termasuk kritik dan masukan. Terima kasih. Tulisan ini akan dilanjutkan dengan sisi lain yang lebih berkaitan dengan latar belakang kelahirannya dan apa yang diperlukan untuk masa mendatang yang membuka kemungkinan Kapirel menjadi mazhab dominan, setidaknya dikenali sebagai wacana yang diperbincangkan dalam arena yang lebih luas. UMY dapat memilih posisi untuk menjadi pelopor. Jika tidak dilakukan, maka yang terjadi adalah Kapirel hanya kembali berhenti sebagai sebuah gagasan akademik yang kesepian, tidak memiliki pengaruh dan daya ungkit perubahan yang digunakan sebagai salah satu dasar pemilihan strategi rekontsruksi peradaban Islam.
Dari Muhammadiyah kembali ke UMY
Banyak keberuntungan yang saya, dan tentu saja juga jamaah Masjid Nogotirto II, Sleman, peroleh ketika memiliki tetangga almarhum Buya Prof. Syafii Ma’arif. Semoga damai di sisi-Nya. Aamiin yRa. Di samping sajian menu tengkleng yang menghangatkan, gagasan yang menyegarkan juga kerap disajikan. Sungguh kenikmatan yang luar biasa ketika dunia semakin terik. Pada satu waktu tertentu, saya berkeluh kesah dan kemudian mengajukan pertanyaan yang tidak mudah disampaikan kepada kebanyakan orang. Buya Syafii menanggapinya dengan cerdas dan cermat. Pertanyaan itu tidak lain tidak bukan adalah: (1) apakah benar terkesan bahwa sejarah Islam itu begitu putih bersih, sebersih dan sebening ajaran yang disampaikan; (2) apakah betul bahwa sepertinya jarang ditemukan penelitian sejarah peradaban Islam dengan perspektif ekonomi; dan (3) adakah kemungkinan didesain rancangan alternatif strategi rekonstruksi peradaban Islam setelah sekian lama berada pada masa penurunan. Tentu saja, ada jawaban yang panjang lebar yang diberikan. Tidak hanya itu, ternyata diskusi intens tentang tiga subjek di atas berlangsung secara berkelanjutan, yang membantu mengurai kebuntuan ketika sedang dihadapi.
Yang juga tidak terlupakan, dan ini tidak kalah penting, adalah saat menerima pelajaran menjelang tengah malam 31 Desember 2007 dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta. Dalam seminar itu, di samping posisi saya sebagai salah seorang pembicara yang bercerita tentang strategi penyehatan Indonesia, saya juga mendengarkan dengan saksama menu pembelajaran yang disajikan oleh Prof. Amin Rais, yang bercerita tentang lahirnya krisis ekonomi di Amerika Serikat (AS) yang berlanjut ke sebagian Eropa. Tafsir lebih jauh saya kembangkan dengan membuat perkiraan; jangan-jangan krisis ini merupakan tanda paling awal dari penurunan hegemoni Barat. Peradaban Barat dalam proses menuju sakit.
Dua pembelajaran bermakna signifikan yang datang dari dua Ketua Umum Muhammadiyah sepertinya layak diceritakan lebih lanjut di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam perjumpaan dan perjamuan ilmiah yang menyegarkan pada hari ini.
Berbagi Kegelisahan dan Menunggu Keajaiban: Madzab dalam Islamic Affairs
Ucapan terima kasih yang tulus dan dalam harus saya sampaikan kepada UMY. Menjadi hal luar biasa kebahagiaan yang dialami oleh ilmuwan ketika sebuah buku hasil karyanya dibahas dalam sebuah forum terhormat yang menghadirkan pembicara yang andal, serta didengarkan dan didiskusikan dengan sungguh-sungguh oleh para pembelajar yang setia pada pilihan keilmuan dan gerakan yang ditekuninya. Berada di tengah-tengah forum ilmiah seperti ini merupakan kehormatan yang tidak mudah dicari penggantinya. Saya ingin menggunakannya untuk berbagi kegelisahan. Mohon maaf jika pilihan ini justru menjadikan forum ini sebagai sumber kegelisahan bagi banyak pihak. Penularan gagasan akademik sepertinya sah jika justru melahirkan dan menyebarkan kegelisahan.
Buku Kapitalisme Religius, Peradaban Islam Masa Depan (Kapirel), kurang lebih secara formal sekarang ini berumur hampir tiga tahun. Benar adanya bahwa buku tersebut baru diterbitkan pada bulan Agustus tahun 2023 oleh Penerbit LP3ES, Depok. Wujud buku ini merupakan perbaikan dari disertasi yang saya tulis di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Namun demikian jika dicermati sedikit lebih dalam cikal bakalnya sudah dapat dijumpai pada dua buku yang telah terbit sebelumnya, yakni Arab Kuni dan Islam: Dari Kapitalisme
Perdagangan ke Kapitalisme Religius (2017) dan Ekonomi Politik Peradaban Islam Klasik (2015), keduanya diterbitkan oleh Penerbit Ombak, Yogyakarta. Oleh karena itu, rasanya boleh diinterpretasikan bahwa sesungguhnya dalam bentuk fisiknya buku tersebut telah berusia agak lumayan, yakni sekitar sepuluh tahun. Pada masa seperti sekarang ini, yang acapkali ditandai oleh teknologi digital dan menurunnya minat membaca, sebuah buku berusia sepuluh tahun merupakan pencapaian yang memadai. Sedikit memuji diri sendiri sebagai penghibur adalah fungsi baru yang perlu dijalankan manusia ketika berada pada periode revolusi teknologi. Setidaknya itulah yang ditegaskan oleh Harari (2016).
Keajaiban apa yang ditunggu? Coba perhatikan apa yang dilakukan para ilmuwan berikut ini. Karl Marx menulis banyak buku dan selalu menggunakan perspektif sejarah jangka panjang. Dia melakukan teorisasi atas fakta yang pada saat itu dinilai belum memiliki penjelasan. Demikian pula, Max Weber tidak jauh berbeda. Ilmuwan kondang kelas dunia lainnya juga melakukan pekerjaan serupa. Coba perhatikan apa yang dilakukan Adam Smith dan John Maynard Keynes. Pada masa yang lebih kekinian coba cermati apa yang dilakukan oleh Immanuel Wallerstein dan Douglass C. North. Demikian pula yang kita jumpai pada Richard B. Thaler, Milton Friedman, Uskali Maki, dan Tony Lawson. Tetapi apakah yang mereka lakukan itu cukup untuk menjadikan apa yang dikerjakan kemudian dikenal, dikenang, dan terus disajikan sebagai menu pembelajaran klasik? Bahkan disebut sebagai teori besar (grand theory). Ternyata tulisan saja tidak cukup—jauh dari memadai.
Ada fakta lain yang ternyata juga muncul di kemudian hari. Ternyata ada Marxisme, Weberian, Smithian, dan Keynesian. Juga ada mazhab sistem ekonomi dunia ala Wallerstein, ekonomi perilaku model Thaler, dan ekonomi kelembagaan ala Douglash C. North. Yang klasik juga dijumpai pada Milton Friedman, dengan filsafat positivisme-instrumentalisme dalam ekonomi neoklasik. Uskali Maki dengan realisme minimal dan pluralisme ekonomi, serta Tony Lawson dengan realisme struktural. Semua itu baru dapat terjadi jika ditemukan pembelajar lanjutan yang setia, melanjutkan pekerjaan mereka dan menggelorakan pemikiran para pendahulu. Yang lebih terkait dengan ilmuwan pada masa kekinian, ditemukan jurnal ilmiah yang diterbitkan sejalan dengan mazhab yang mereka bangun. Yang pada akhirnya membangun jaringan ilmuwan, baik skala nasional maupun internasional. Syarat pokok pendahuluan yang perlu dipenuhi yakni adanya lembaga ilmiah dengan kekuatan finansial yang memadai. Ada juga persyaratan politik yang biasanya berkaitan dengan kemungkinan menjadi mazhab arus utama. Perlu juga dijumpai momentum yang tepat.
Di Indonesia juga, untuk sekadar menyebut beberapa nama besar, dijumpai ilmuwan serupa dengan skala yang berbeda: Amin Abdullah, Arif Budiman, B.J. Habibie, Dawam Rahardjo, Kuntowijoyo, Hamim Ilyas, Mubyarto, Nurcholis Madjid, Sartono Kartodihardjo, Satjipto Rahardjo, Sumitro Djojohadikusumo, Syafii Ma’arif, Taufik Abdullah, Teuku Jacob, dan tentu saja masih ada beberapa nama lain yang juga layak disebut. Dipastikan dijumpai para pembelajar lanjutan yang meneruskan pekerjaan mereka, tetapi masih dapat dipersoalkan apakah jumlahnya memadai. Mereka memulai pekerjaan berat tersebut ketika sudah dewasa, bukan ketika masih muda. Tetapi rasanya tidak ditemukan salah satu dari mereka—para pemikir hebat itu—yang mendesain dan menerbitkan jurnal khusus untuk menampung dan mengembangkan lebih jauh pemikiran mereka. Demikian pula, tidak dipenuhinya syarat-syarat lain, misalnya dukungan kelembagaan yang terlihat dari adanya pusat kajian. Akibatnya terasa cukup menyedihkan, pokok-pokok pikiran mereka sedikit atau banyak mudah terlupakan – tidak langgeng berkelanjutan. Tidak terbuka kesempatan untuk menjadi pemikiran klasik. Apalagi, sampai terbuka peluang untuk terbangun menjadi mazhab tersendiri. Teorisasi berkelanjutan tidak berjalan.
Belakangan ini, kesadaran kecil untuk membangun secara berkelanjutan pokok-pokok pikiran mereka mulai terlihat, sekalipun masih tampak sporadis. Lahirnya sebuah jurnal yang dikhususkan dan didedikasikan untuk Kuntowijoyo, yang dikelola oleh Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa. UGM juga baru melakukan sarasehan tentang pemikiran filsafat ilmu Kuntowijoyo. Belum lama berselang, diadakan acara penghormatan dan penelusuran kembali pemikiran Mubyarto. Sekarang ini agak banyak ditemukan perhelatan akademik untuk menggali ulang sekaligus memperluas perspektif ekonomi Sumitro. Sepertinya benar bahwa hanya sebuah keajaiban jika Kapirel memiliki kesempatan untuk memenuhi berbagai prasyarat yang dirindukan itu. Sekiranya salah satu syarat pokoknya dipenuhi, Islamic Affairs, Jurnal Strategi Rekonstruksi Peradaban, dapat terbit di masa depan yang dekat, merupakan peristiswa sejarah yang seharusnya sudah ditunggu oleh banyak pihak. Harapan itu sesungguhnya ada di depan mata. Apakah masih boleh dan layak berharap sebesar itu pada usia yang sudah mulai menua?
Menu Tambahan: Kapitalisme Liberal Meritokratik vs Kapitalisme Politik
Kapitalisme masa depan dan masa depan kapitalisme sepertinya tidak pernah mati untuk diperbincangkan secara akademik—dan tentu saja secara politik—di belahan dunia mana pun. Aspirasi manusia untuk menjalani hidup lebih baik dan, di saat yang sama, keprihatinan yang dalam tentang masa depannya sendiri menjadikan mereka bersedia, dengan tidak lelah dan penuh energi, untuk tidak bergeser atau lengah memprakirakan masa depannya, apalagi ketika ketidakpastian ditengarai semakin meninggi seiring dengan mencairnya tatanan lama dunia (old world order), sementara tatanan baru belum terbangun—masih dalam proses pembentukan, tegas Dutkiwicz (2023: xi). Ditegaskannya bahwa “Quite simply, we live in uncertain times – in a sort of ‘inter-regnum’ between old and new ruling paradigms.” Uniknya, proses mencari itu justru mulai berlangsung tidak lama setelah deklarasi kemenangan prematur yang ditulis oleh Fukuyama (1992, 1989) dengan frasa simbolik yang menyengat “the end of history”.
Belakangan ini tentu saja masih dan sepertinya akan terus ada yang menulis dan memperkirakan kematian atau berakhirnya kapitalisme (Calhoun, 2018; Etzioni, 2018; Mattei, 2026; Sharma, 2024; Streeck, 2018, 2014; Toynbee, 2018). Pendapat demikian sepertinya kembali tumbuh subur setelah Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 2007/2008. Untuk sekedar menyebut contoh, Streeck (2014: 35) menyatakan bahwa “There is a widespread sense today that capitalism is a critical condition, more so than at any time since the end of the Second World War.” Dilanjutkannya dengan menunjukkan adanya tiga indikator utama yang dijumpai dalam negara-negara maju yang telah mengalami industrialisasi tingkat lanjut, sekalipun pada umumnya penyakit pokok kapitalisme selalu terkait dengan dua hal, yakni ketimpangan dan krisis.
Streeck (21014) menggunakan tiga indikator lain, yakni tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus rendah dan cenderung menurun, terus meningginya utang, dan ketimpangan ekonomi dalam penguasaan kekayaan dan pendapatan. Ia (2014: 169–170) dengan tegas meramalkan kematian kapitalisme, sekalipun pada mulanya yang lahir kemudian masih berupa masyarakat “post-capitalism” sebagai masa transisi. Pendapat serupa, dengan nada yang lebih radikal, diajukan oleh Sharma (2024) dalam buku What Went Wrong with Capitalism, yang menuding adanya kesalahan dalam ajaran inti kapitalisme, bukan sekadar pada tahap implementasi. Yang paling baru dapat ditemukan dalam buku yang ditulis oleh Clara E. Mattei (2026) berjudul Escape from Capitalism, yang menawarkan solusi sosialisme lokal (sosialisme komunitas).
Dalam hal ini, Calhoun (2014)—sekalipun dapat dikategorikan sebagai akademikus radikal—memiliki pandangan berbeda, dengan tidak serta-merta memprakirakan kematian kapitalisme dalam waktu dekat dan secara mendadak. Tulisannya (2014: 171) dibuka dengan kalimat pertanyaan retoris yang segera dijawabnya sendiri. “Does capitalism have a future? Of course it does. But it is not necessarily pretty.” Dia (2014: 173) sepenuhnya menyadari adanya sisi positif—misalnya dalam penciptaan kekayaan dan inovasi—di saat yang sama mengenali dengan baik sisi negatif kapitalisme, seperti yang sudah biasa disebut dalam berbagai tulisan. Tidak kalah pentingnya, dia (2014: 171) juga menegaskan bahwa kapitalisme merupakan sistem ekonomi dominan dunia, dan posisi strategis ini menjadi sebab mengapa kehancurannya juga perlu proses yang berliku dan panjang.
Jika dikaitkan dengan ideologi liberalisme, sesungguhnya gugatan yang sama juga kini lazim ditemukan, tidak saja pada dataran implementasi (Fukuyama, 2022; Rosenblatt, 2024; Wolf, 2023), tetapi juga pada level ajaran—sebuah kritik yang jauh lebih radikal (Dennen, 2018; Gary, 2023, 1996). Kritik radikal inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya ideologi baru yang kini dikenal dengan nama Liberalisme atau Populisme (Laurelle, 2022; Pappas, 1019; Zakaria, 1997) serta kebangkitan kembali Konservatisme (Fawcett, 2020; Phillip-Fein, 2011). Mereka yang radikal ini menyatakan bahwa memang ada kesalahan yang melekat erat pada entitas kapitalisme dan liberalisme, dan oleh karena itu tidak mungkin diperbaiki. Yang tersisa dan belum kunjung jelas adalah solusi strategis atas penyakit kapitalisme.
Pendapat yang sedikit berbeda dan lebih historis disampaikan oleh DeLong (2022: 1-26). Dengan menunjuk pada waktu “long twentieth century”, yakni sejak tahun 1870 sampai 2010, ia menyatakan bahwa ditemukan fakta keberhasilan kapitalisme dan, di saat yang sama, dipastikan ada fakta kegagalan yang menyakitkan dan menyedihkan. Dijumpai kemajuan ekonomi berupa peningkatan kesejahteraan yang lebih dari sekadar signifikan. Dengan menunjukkan data-data yang digali, ia menyimpulkan bahwa kurun waktu seratus empat puluh tahun tersebut disebutnya sebagai “….. the century that saw the end of our near-universal dire material poverty.” Lebih jauh, dia (2022: 1-3) menunjuk pada tiga faktor kelembagaan baru yang menjadi penyebabnya, yakni kelahiran dan berkembangnya globalisasi, industri laboratorium penelitian, dan perusahaan modern.
Namun demikian, ia (2022: 50) juga meyakini bahwa pencapaian luar biasa tersebut sejatinya belum merupakan ujung dari perjalanan menuju yang ideal. “We did not run to the trail’s end and reach utopia.” Ekonomi pasar memang dapat menyelesaikan problem yang ditetapkan oleh dirinya sendiri, tetapi ternyata “…… society did not want those solutions – it wanted solutions to other problems that the market economy did not solve itself….” Persoalan yang tidak kunjung disentuh oleh pasar ini, tetapi di sisi lain sejatinya menjadi prioritas tertinggi jika dilihat dari kepentingan masyarakat adalah “social justice.” Prinsip yang digenggam erat-erat terkait dengan persoalan ini adalah “The market was made for man, not man for the market.” Unik dan anomalis, dia sepenuhnya menyadari bahwa keadilan sosial yang sejatinya merupakan cita-cita luhur tersebut tetap merupakan utopia yang tidak akan pernah dapat diraih. Alasan pokoknya jelas, yakni bahwa “human progress toward utopia has been, but a slouch is that so much of it has been and still is mediated by the market economy….” Lingkaran setan yang tidak berujung pangkal, terseok-seok berjalan di tempat.
Pendapat yang lebih optimis sekaligus menunjuk pada jenis (bentuk) kapitalisme masa depan disampaikan oleh Branko Milanovic (2021) dalam buku berjudul Capitalism, Alone: The Future of the System that Rules the World dan tulisan lainnya (2020: 10-21). Dengan jelas dan tegas, dia (2020: 10) menulis bahwa “Capitalism rules the world.” Dilanjutkannya dengan menulis bahwa bukan saja sebagai sistem dominan dunia, tetapi juga berposisi sebagai “….. the sole socioeconomic system in the world” yang tidak pernah ditemukan pada masa-masa sebelumnya. Pada masa lalu selalu dijumpai sistem ekonomi pendamping yang beroperasi bersama kapitalisme. Kini, kapitalisme beroperasi secara mandiri, kecuali di beberapa wilayah yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan global. Ia (2020: 2) mendifinisikan kapitalisme sebagai “…..production organized for profit using legally free wage labor and mostly privately owned capital with decentralized coordination….” Kapitalisme memiliki pandangan bahwa “….. money-making not only is respectable but is the most important objective in people‘s lives, an incentive understood by people from all parts of the world and all classes.” Ini tidak berarti bahwa dia tidak mengenali sisi negatif kapitalisme. Dia menulis dengan gamblang dalam buku lainnya, yakni Global Inequality: A New Approach for the Age of Globalization (2016).
Pada masa sekarang ini dia (2021: 1-128; 2020: 3-18) menyatakan bahwa ada dua varian pokok kapitalisme, yakni kapitalisme liberal meritokratik dan kapitalisme politik (lihat juga Holcombe, 2018, 2015). Jenis pertama dijumpai di Amerika Serikat (AS) dan pada umumnya di negara-negara Barat lainnya, sedangkan jenis terakhir ditemukan di China dan beberapa negara Asia lainnya. Varian kedua acapkali juga dikenal dengan sebutan kapitalisme negara (state capitalism). Dijumpai juga pandangan lain (Jin, 2023; lihat juga Huang, 2023) yang menyatakan bahwa yang berlangsung di China itu sebagai dan telah “beyond capitalism and socialism.”
Ditambahkan oleh Milanovic (2021: 14-21), secara historis, ditemukan tiga jenis kapitalisme yang pernah lahir dan berkembang di Barat, yakni kapitalisme klasik (classical capitalism), kapitalisme demokrasi sosial (social democratic capitalism), dan kapitalisme liberal meritokratik (liberal meritocratic capitalism). Variasi pertama dan kedua hampir tidak ditemukan lagi di Barat pada masa sekarang ini. Dia menggunakan enam kriteria untuk membedakan adanya tiga varian kapitalisme tersebut, yakni “(1) rising share of capital income in net product, (2) high concentration of capital ownership, (3) capital-abundant individual are rich, (4) capital-income rich are also labour-income rich, (5) risch for potentially rich mary each other (homogamy), (6) high correlation of income between parents and children (transmission of adavantages).”
Kapitalisme masa depan memiliki dua bentuk alternatif, setidaknya demikian menurut perkiraan Milanovic (2021: 216-218; 2020: 19-21). Kemungkinan pertama, kapitalisme liberal meritokratik berhasil berkembang lebih jauh dan berubah bentuk menjadi apa yang disebutnya sebagai kapitalisme rakyat (people’s capitalism). Alternatif ini memiliki kemungkinan mewujud jika tiga syarat berikut dapat dipenuhi: “(1) the concentration of capital income (and the concentration of ownership of wealth) would be less, (2) income inequality would be lower, and (3) intergenerational income mobility would be greater.” Syarat terakhir tersebut diperlukan untuk mencegah munculnya sekelompok elit yang berkelanjutan antargenerasi (a durable elite). Mencegah kelanggengan sejumlah elit untuk berkuasa secara terus menerus berjangka panjang.
Alternatif kedua berupa perubahan bentuk kapitalisme liberal meritokratik menjadi kapitalisme politik, melalui proses plutokrasi. Skenario kedua ini sepertinya memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi kenyataan karena gejala plutokrasi tampaknya semakin mengedepan seiring dengan perkembangan kapitalisme liberal. Evolusi demikian juga ditegaskan oleh Milanovic (2021: 217) “…..to a large extent compatible with the interest of the elite to be much more autonomous from the rest of society.” Ujungnya, kekuatan ekonomi dan politik yang dimiliki oleh elit menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, digenggam rapat-rapat, dan tidak ingin terpisah. Elit sepenuhnya otonom, terbebas dari pengawasan masyarakat. Fenomena seperti ini disebutnya sebagai “tying up the knot on wealth and power.”
Yang paling menarik adalah apa yang ditulis oleh Milonavic berikut ini: “The end point of the two systems becomes the same: unification and persistence of the elites.” Tidakkah sekarang sudah mulai terlihat tidak saja di negara maju tetapi juga di negara berkembang?
Menu Penutup: Belajar dari Strategi Predatory Hegemony dari Trump?
Jangan pernah bertanya atau berguru tentang strategi, kecuali kepada Amerika. Di sanalah gudang ahli strategi berada. Henry Kissinger (2022, 2015, 2012) merupakan salah satu raksasa dunia, tidak saja sebagai penulis strategi, tetapi juga mempraktikkannya dengan jitu. Kini ditemukan dalam jumlah yang lebih banyak. Salah satunya adalah Ian Bremmer (2015), yang menyajikan rancangan tiga alternatif strategi — Incoherent America, Independent America, dan Moneyball America —dalam buku Superpower: Three Choices for America’s Role in the World. Diduga buku itulah yang menjadi inspirasi desain strategi Donald Trump, yang secara ringkas dikenal sebagai MAGA (Make America Great Again). Ada juga yang menamainya dengan sebutan “America First”. Amerika siap menjalani politik isolasi, hanya memikirkan nasibnya sendiri, dan melupakan posisinya sebagai negara adikuasa pemegang hegemoni dunia, sehingga meninggalkan sebagian mitra.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah kontemporernya, Amerika sepertinya belum kunjung menemukan desain strategi yang tepat dan efektif. Ternyata, ketika dalam posisi menurun—tidak lagi dalam posisi sehat, tumbuh, dan kuat—tidak ada pengecualian. Siapa saja ternyata dapat mengalami kebingungan dan kesulitan dalam merancang strategi “turnaround.” Dunia terlihat gelap gulita. Ini tidak hanya berlaku bagi peradaban Islam, tetapi juga bagi peradaban lain yang pernah menurun dan nyaris kalah. China juga pernah mengalaminya dan baru menemukan resepnya pada tahun 1979 ketika Deng Xiaoping, yang menurut Shambaugh (2021: 95-160) adalah seorang pemimpin yang dikenal sebagai Pragmatist Leninist, berkuasa. Apa yang ditinggalkannya dinilai melebihi apa yang diperbuat oleh Mao Zedong, dan juga pemimpin China lainnya setelahnya. Hanya tertandingi dan terkalahkan oleh Xi Jinping, seorang Modern Emperor, yang sekarang berkuasa.
Kini pada awal periode kedua, pilihan strategi Trump berubah dengan nada lebih keras, dan disebut sebagai “predatory hegemony” oleh Walt (2026: 8-23), yang secara ringkas bermakna “How Trump Wields American Power.” Adakah yang dapat dipelajari dari pengalaman Amerika dan Trump untuk memulihkan masa kejayaannya, agar tidak terus-menerus menurun dan tenggelam ditelan bumi? Bukankah pada masa lalu telah cukup banyak dijumpai bukti mati dan lenyapnya peradaban. Yang jelas terlihat adalah bahwa Amerika tidak pernah menyerah; mereka terus mencari strategi baru, sesuai dengan konteks global pada masa itu. Sedikit berani dengan spekulasi. Adakah yang lain atau mungkin hanya itu yang dapat ditiru?
Secara substansif—isi strategi—tidak ada yang perlu dipelajari dan ditiru dari pilihan strategi yang dibuat dan dijalankan oleh Trump. Strategi pemangsa (predatory) tidak bertumpu pada kerja sama sukarela dan prinsip perdamaian. Justru berada pada posisi sebaliknya. Jika dibuat sederhana, strategi tersebut justru mengandalkan prinsip eksploitasi dan submisi permanen, serta merupakan “zero-sum strategy”, bukan strategi yang saling menguntungkan. Strategi ini juga tidak dapat digunakan pada negara kuat lain, misalnya di China. Dikenal dalam frasa Thucydides sebagai prinsip “the strong do what they can and the weak suffer what they must.” Strategi ini hanya efektif dalam jangka pendek karena “predatory hegemony contains the seed of its destruction,” tegas Walt (2026: 15).
***
Disajikan pada Bedah Buku Kapirel di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Rabu, 3 Juni 2026.
Naskah ditulis dari prespektif akademis dan profesional penulis. Alat AI hanya digunakan untuk visualisasi.









Leave a Reply