Mahasiswa Hindu Kuliah Gratis hingga Lulus di BIM University, Beasiswa Penuh Bank Aladin Jadi Bukti Kampus Inklusif

DENPASAR – Menjadi mahasiswa Hindu di Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM University) tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan berkembang secara optimal. Justru, pengalaman salah satu mahasiswa Hindu di BIM University memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat tumbuh berdampingan dalam lingkungan akademik yang inklusif. Tidak hanya memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di BIM University, mahasiswa tersebut juga…


Eko Purnomo Avatar

·

3–5 minutes

DENPASAR – Menjadi mahasiswa Hindu di Universitas Bali Internasional Muhammadiyah (BIM University) tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan berkembang secara optimal. Justru, pengalaman salah satu mahasiswa Hindu di BIM University memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat tumbuh berdampingan dalam lingkungan akademik yang inklusif.

Tidak hanya memperoleh kesempatan menempuh pendidikan di BIM University, mahasiswa tersebut juga mendapatkan beasiswa penuh dari Bank Aladin Syariah yang memberikan kesempatan kepadanya untuk kuliah gratis hingga menyelesaikan pendidikan di BIM University.

Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus menunjukkan bahwa akses pendidikan di BIM University terbuka bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Meskipun berada di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, mahasiswa non-Muslim tetap memperoleh ruang yang sama untuk belajar, berorganisasi, mengembangkan potensi, dan menjalankan keyakinannya.

Sebagai mahasiswa Hindu, ia mengaku sempat memiliki kekhawatiran ketika pertama kali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di kampus yang berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah. Perbedaan latar belakang agama sempat membuatnya bertanya-tanya mengenai bagaimana kehidupan akademik dan sosial yang akan dijalani.

Namun, kekhawatiran tersebut justru berangsur hilang setelah ia merasakan langsung kehidupan di lingkungan BIM University.

“Pada awal masa orientasi, kekhawatiran mengenai potensi hambatan sosial atau perbedaan latar belakang agama tentu sempat muncul. Namun, keraguan tersebut perlahan hilang seiring berjalannya interaksi sehari-hari,” ungkapnya.

Menurutnya, BIM University memberikan pengalaman akademik yang jauh dari kesan eksklusif. Dosen dan mahasiswa terbiasa membangun interaksi yang menghargai perbedaan, termasuk keberagaman budaya dan keyakinan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Ia merasakan adanya perlakuan yang setara dalam berbagai aktivitas kampus. Kesempatan untuk berkembang tidak ditentukan oleh latar belakang agama, tetapi lebih pada kemampuan, tanggung jawab, dan kemauan setiap mahasiswa untuk belajar.

“Lingkungan kampus BIM University menjunjung tinggi asas kesetaraan dan sikap inklusif. Para dosen dan rekan mahasiswa menyambut keberagaman kultur masyarakat Bali dan sekitarnya dengan terbuka,” tuturnya.

Kehidupan perkuliahan pun berlangsung secara harmonis. Aktivitas seperti diskusi kelompok, pengerjaan tugas berbasis proyek, hingga berbagai kegiatan akademik dapat dijalankan secara profesional tanpa menjadikan perbedaan keyakinan sebagai batas dalam membangun kolaborasi.

Bahkan, perbedaan dalam menjalankan tradisi keagamaan justru menjadi bagian dari proses belajar untuk saling memahami.

“Perbedaan jadwal ibadah atau tradisi keagamaan tidak menjadi penghalang, melainkan justru membentuk pola komunikasi yang saling menghargai. Rekan-rekan mahasiswa sangat menghormati saat saya menjalankan tradisi kepercayaan saya, sebagaimana saya menghargai aktivitas keagamaan mereka di kampus,” katanya.

Beasiswa Penuh Bank Aladin Syariah

Pengalaman tersebut semakin bermakna karena perjalanan pendidikannya di BIM University didukung melalui beasiswa penuh dari Bank Aladin Syariah. Beasiswa tersebut memberikan kesempatan baginya untuk menempuh pendidikan tinggi tanpa harus terbebani biaya kuliah hingga menyelesaikan studi.

Kesempatan memperoleh beasiswa penuh tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan dan lembaga keuangan dapat membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan berkualitas.

Bagi mahasiswa tersebut, kesempatan kuliah gratis hingga lulus bukan hanya bantuan secara finansial, tetapi juga menjadi kepercayaan yang harus dijawab dengan kesungguhan dalam menjalani pendidikan.

Di sisi akademik, ia menilai BIM University memberikan pengalaman belajar yang mendorong mahasiswa untuk memiliki kompetensi, kemampuan berpikir kritis, karakter, serta kesiapan menghadapi dunia profesional.

Proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membangun kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan keberagaman.

“Penilaian dan bimbingan akademik dilakukan secara objektif berdasarkan pencapaian dan integritas ilmiah. Pembelajaran di kampus ini memberikan pelajaran berharga bahwa institusi yang membawa nilai-nilai keagamaan tetap dapat menjadi ruang inklusif yang sangat positif bagi pertumbuhan intelektual seluruh mahasiswanya tanpa diskriminasi,” jelasnya.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat pendidikan tinggi bukan sekadar tempat memperoleh gelar. BIM University menjadi ruang untuk belajar memahami perbedaan, membangun empati, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas.

Baginya, keberagaman yang ditemui selama menjalani perkuliahan justru memperkaya pengalaman akademik dan kehidupan sosial.

“Pengalaman menuntut ilmu di BIM University sebagai mahasiswa non-Muslim tidak hanya mengasah kemampuan akademis dan perspektif saya, tetapi juga membentuk kedewasaan emosional serta empati sosial,” ujarnya.

Kisah mahasiswa Hindu yang memperoleh beasiswa penuh Bank Aladin Syariah hingga lulus di BIM University sekaligus menjadi gambaran bahwa pendidikan yang berkualitas dapat berjalan beriringan dengan nilai toleransi, keberagaman, dan kesetaraan.

Di tengah keberagaman masyarakat Bali, BIM University berupaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk tumbuh dan meraih masa depan tanpa dibatasi perbedaan latar belakang.

“Pengalaman ini membuktikan bahwa keberagaman yang dikelola dengan rasa saling menghormati adalah fondasi utama dalam menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang harmonis, inklusif, dan berdaya saing global,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *