Ketua BKSAP DPR RI Ajak Mahasiswa BIM University Menjadi Pelaku Diplomasi Global di Era AI

DENPASAR — Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dr. Syahrul Aidi Maazat, L.C., M.A. mengajak mahasiswa Indonesia untuk tidak memandang isu global sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kampus. Menurutnya, perguruan tinggi merupakan ruang strategis untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan dunia, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI). Pesan tersebut disampaikan dalam…


Eko Purnomo Avatar

·

1–2 minutes

DENPASAR — Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dr. Syahrul Aidi Maazat, L.C., M.A. mengajak mahasiswa Indonesia untuk tidak memandang isu global sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kampus. Menurutnya, perguruan tinggi merupakan ruang strategis untuk melahirkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan dunia, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Pesan tersebut disampaikan dalam kuliah umum Diseminasi Diplomasi Parlemen di Era AI yang diselenggarakan BIM University, Rabu (26/8/2026), di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika.

Delegasi BKSAP yang hadir terdiri atas Dr. Syahrul Aidi Maazat, Irine Yusiana Roba Putri, Muhammad Husein Fadlulloh, Bramantyo Suwondo, Denny Cagur, Trinovi Khairani, Andina Thresia Narang, Andi Muawiyah Ramly, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, dan Faujia Belga Br. Tampubolon, didampingi perwakilan Sekretariat Jenderal DPR RI.

Syahrul menjelaskan bahwa BKSAP merupakan ujung tombak diplomasi parlemen Indonesia yang mewakili DPR RI dalam berbagai organisasi internasional, seperti Inter-Parliamentary Union (IPU), AIPA, hingga forum-forum multilateral yang membahas perdamaian, perubahan iklim, dan transformasi digital.

“Selama ini banyak isu global dibahas di ruang diplomasi, tetapi tidak sampai ke masyarakat. Karena itu kami datang ke kampus. Kami ingin mahasiswa mengetahui bahwa AI, perubahan iklim, dan ketahanan pangan bukan sekadar isu internasional, melainkan tantangan yang akan menentukan masa depan Indonesia,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman yang harus ditolak.

“Yang berbahaya bukan AI-nya, tetapi ketika manusia kehilangan kebijaksanaan dalam menggunakannya. Teknologi harus memperkuat kreativitas, mempercepat riset, dan meningkatkan pelayanan publik, bukan menggantikan nilai kemanusiaan dan akal kritis,” tegasnya.

Menurut Syahrul, generasi muda Indonesia memiliki kesempatan besar menjadi aktor diplomasi baru melalui inovasi, publikasi ilmiah, hingga kolaborasi internasional berbasis teknologi.

Rektor BIM University, Prof. Harun Joko Prayitno, menyebut kehadiran BKSAP menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan dan diplomasi memiliki hubungan yang sangat erat dalam membangun daya saing bangsa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *