Koneksi Politik Teori Besar GT/TOE

Suwarsono Muhammad (Analis Ekonomi Pembangunan) Posisi bertolak belakang yang mengamini perlunya teori besar (GT atau TOE), bahkan terkesan sampai pada mensakralkan posisi GT, diambil oleh Jonathan H. Turner (Turner dan Boynes, 2002: 353-378; Turner dan Jedlicka, 2021: 1-13; dan Turner, 1987: 156-194), Arthur L. Stinchombe (1982: 2-11), Blute dan Amstrong (2011: 391-425), dan dalam batas-batas…


whc2t Avatar

·

8–11 minutes

Suwarsono Muhammad (Analis Ekonomi Pembangunan)

Posisi bertolak belakang yang mengamini perlunya teori besar (GT atau TOE), bahkan terkesan sampai pada mensakralkan posisi GT, diambil oleh Jonathan H. Turner (Turner dan Boynes, 2002: 353-378; Turner dan Jedlicka, 2021: 1-13; dan Turner, 1987: 156-194), Arthur L. Stinchombe (1982: 2-11), Blute dan Amstrong (2011: 391-425), dan dalam batas-batas tertentu juga dianut oleh Alexander (1987: 11-57). Nama yang disebut paling belakang menulis “the centrality of the classics,” dan yang klasik itu dapat dipastikan berupa GT. Sebagian dari nama-nama besar tersebut sekaligus juga berposisi sebagai praktisi (penemu) teori besar. Posisi yang dipilih Alexander sepenuhnya bertolak belakang dengan yang dimiliki oleh Connel (1997), yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya.
Di samping mereka yang telah disebut di atas yang pada umumnya sudah dikenal relatif agak lama terutama dalam sosiologi sebagai praktisi GT, dijumpai juga nama-nama yang relatif lebih baru yang jelas-jelas merupakan pemeluk dan praktisi setia GT. Sebagian dari nama- nama yang hendak disebutkan ini sepertinya tidak sepenuhnya berada dalam disiplin sosiologi, bahkan ada yang jelas-jelas merupakan ekonom, sekalipun pada masa mudanya dikenal dekat dengan madzab Marxian – sebuah fenomena yang sepertinya agak jarang dijumpai belakangan ini. Quentin Skinner (1990/1985), guru besar ilmu politik, menulis buku berjudul “The Return of Grand Theory in the Human Science,” di dalamnya dibahas tentang sembilan ilmuwan yang dikategorikannya sebagai “grand theorists,” setidaknya sebagiannya benar-benar memenuhi syarat yang diperlukan (lihat Thrift, 1987: 343-344).
Di luar nama-nama yang disebut oleh Skinner, ditemukan nama Immanuel Wallerstein yang dikenal sebagai raksasa dunia dengan teori sistim dunia (the world system) yang telah diterbikan secara berseri dalam buku dan tulisan lain (2011a, 2011b, 1985, 1983, 1980, 1976, 1974a, 1974b) lebih sering dikenal sebagai ilmuwan ekonomi politik (political economy) dan perbandingan sejarah (comparative history), sekalipun sesungguhnya ia juga seorang sosiolog. Bahkan ditemukan nama Douglass C. North, seorang penerima Nobel Ekonomi pada tahun 1993 (bersama Robert W. Fogel) sekaligus salah seorang penemu madzab ekonomi kelembagaan (institutional economics) dan tidak kalah pentingnya ia dikenali sebagai sejarahwan ekonomi (economic historian) (lihat Breit dan Spencer, 1995, ed., hal. 251-268; Redlich, 1965: 460-495; Stromberg, 2002: 101-137; Telles, 2024: 109-156; dan Wisman, Willoughby, dan Sawers, 1988: 747-772).
Sebelum berlanjut lebih jauh, ada baiknya menoleh ke belakang sejenak pada tulisan C. Wright Mills (1959) dalam buku Sociological Imagination, yang sudah disinggung dalam pembahasan tentang MRT pada bagian sebelumnya. Setidaknya ditemukan tiga jenis keterkaitan yang unik antara dia dengan TB. Pertama, benar adanya bahwa dia berdiri berseberangan dengan perspektif TB dan bahkan mengecamnya, tetapi harus diakui bahwa secara formal dia yang pertama kali memperkenalkan istilah TB (GT) (1959: 25-49). Dia juga yang secara tidak langsung memberikan pengertian (definisi) tentang TB untuk pertama kalinya, setidaknya secara garis besar. Terakhir, pengertian yang dia sampaikan tentang TB hampir selalu dijadikan pijakan awal bagi penulis lain di kemudian hari untuk membahasnya lebih lanjut dan lebih dalam (lihat misalnya Batiuk, 1987: 184-185; Skinner, 1990: 3; Telles, 2024: 110; dan Thrift, 1987: 343-344).
Pada mulanya Mills (1959: 4) bercerita bahwa sejatinya yang dikehendaki adalah lahirnya kualitas pemikiran yang secara esensial dapat memadukan antara “….. the interplay of man and society.” Dalam bahasa kekinian, itu tidak jauh berbeda dengan apa yang disebut oleh Turner (2002: 353), misalnya, sebagai menghubungkan realitas mikro dan makro, menemukan dasar mikro dari yang makro. Dipastikan tidak mudah, dan yang lebih banyak dijumpai adalah berkencenderungan untuk memilih dan berada pada salah satu titik ekstrim, pada “man” saja atau pada “society” saja. Hasilnya adalah apa yang selama ini dikenal sebagai reduksionisme dalam teorisasi.
Akibatnya ditemukan tiga kecenderungan dalam berilmu sosial (Mills, 1959: 22-23; lihat juga Telles, 2024: 110), yakni secara analitis berusaha menteorisasikan sejarah (toward a theory of history), membangun secara sistematis teori tentang “the nature of man and society,” dan terakhir, kecenderungan sepenuhnya mengkaji fakta empiris secara detail menghindar dari kemungkianan melakukan abstraksi teorisasi. Kecenderungan kedua itulah menurut Mills (1959: 23) yang menjadi cikal bakal munculnya TB. TB, jadinya, melupakan sejarah dan jauh dari fakta empiris. Tidak heran jika kemudian pengertian TB yang diajukan oleh Mills (1959: 23) pada dasarnya – jika dibuat sederhana – tidak lain tidak bukan “….. concerned with a rather static and abstract view of the components of social structure on a quite high level of generality.”
Dilanjutkannya (1959: 33) bahwa kecenderungan kedua itu terjadi karena dari sejak semula memang ilmuwan yang berkehendak membangun TB telah memilih “…. a level thinking so general that its practitioners cannot logically get down to the observation.” Sebagai “grand theorists,” dipastikan bahwa mereka tidak bersedia menurunkan derajat generalisasi yang dihasilkan untuk kembali mendekat dan mendarat bertemu kembali dengan sejarah dan konteks struktural fakta-fakta yang ditemukan. Tingginya tingkatan abstraksi itu justru diperlakukan sebagai keunggulan rumusan teoritiknya, yang pada ujungnya menempatkan para pemeluk TB menjadi lebih terhormat. Tidak heran jika kemudian ada yang menilai bahwa mereka cenderung memiliki perilaku congkak secara akademik, mungkin hanya kalah dengan para filsuf.
Bagi Mills (1959: 35) ketika mereka tidak bersedia lagi mendarat, sesungguhnya mereka telah kehilangan fakta-fakta detail penting yang pada mulanya mereka cari dan telah temukan. Teori yang mereka hasilkan berada di langit. Keseluruhan tulisan Mills (1959: 33) memang “….. is to help grand theorists get down from their useless height.” Hasilnya, para pemeluk MRT dan GT tetap terpisah untuk tidak mengatakan menjauh, dengan tenang berjalan sendiri-sendiri dan tetap yakin pada pilihan dan jalan masing-masing. Bahkan kini, sepertinya ada yang meyakini bahwa GT kembali bangkit dengan tambahan satu karakter yang dahulu tidak dikenali sepenuhnya oleh Mills. Kecenderungan pertama yang disebut oleh Mills – teorisasi sejarah – menjadi karakter tambahan, setidaknya jika dilihat dari karya- karya Immanuel Wallerstein dan Douglas C. North.
Selain derajat abstraksi yang menjadi pusat perhatian Mills seperti jelas-jelas terlihat pada bagian tulisan di atas, adakah ciri lain yang ditemukan pada GT dan juga sekaligus menjadi pembeda dengan MRT? Sebagian jawaban dari pertanyaan ini diberikan oleh Telles (2024: 110) ketika dia menjelaskan tentang bagaimana Douglas C. North mulai membangun teori kelembagaan yang mencoba menjawab tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial: mengapa beberapa negara berhasil menjadi kaya dan sebagian besar yang lain tetap miskin. Ditegaskan oleh Telles bahwa apa yang dilakukan oleh North “….. is not reduced or confined in Mills’s definition above…” North sendiri, dengan tidak segan-segan, benar mengakui bahwa dia memang pemburu GT. Proses teorisasi yang dilakukan sepenuhnya diarahkan pada model “grand theorizing.” “Yeah, that’s certainly the right way to put it. It is grand theorizing,” merupakan jawaban tegas dari North (2008: 207). Untuk keperluan itu ia melakukan amalgamasi antara apa yang dikenal sebagai model perumusan teori besar dengan sejarah berdimensi waktu panjang dan sekaligus menempatkannya dalam konteks sosial yang melingkungi fakta sejarah yang ditemukan. Proses penggabungan antara berfikir abstrak dan sekaligus mengaitkannya dengan fakta empiris ini diperlukan untuk menjelaskan perbedaan arsitektur dan dinamika kelembagaan, yang berujung menjadi penjelas pada kinerja ekonomi negara dalam jangka panjang.
Dalam konteks sejarah ilmu pengetahuan kontemporer, North tidak berdiri sendirian. Perjalanan serupa untuk memukan GT yang dimulai dengan metodologi menggabungkan antara berpikir abstrak dan menggali kedalaman sejarah berdimensi waktu panjang juga dilakukan oleh Immanuel Wallerstein (1976a) dalam proses penemuannya tentang teori sistim dunia (a world system theory). Ia (1976a: 343) memulai dengan menyebutkan adanya “grand debate” berkelanjutan antara disiplin ilmu yang memiliki kecenderungan berorientasi pada “nomothetic and idiographic knowledge.” Yang pertama memburu universalisasi dalil (teori) yang beragumentasi bahwa pada dasarnya perilaku manusia dapat diperlakukan sebagai fenomena alami dan oleh karena itu dapat ditemukan hukum-hukum universalnya. Kecenderungan pertama ini dijumpai pada disiplin ilmu ekonomi dan dalam batas-batas tertentu juga dalam disiplin ilmu politik. Ilmu sosiologi terkesan terombang-ambing antara GT dan MRT. Bertolak belakang dengan yang pertama, ditemukan juga disiplin ilmu yang memiliki kecenderunngan untuk menemukan keunikan sejarah (partikularitas). Metodologi idiografik menyatakan bahwa hukum universal tidak mungkin ditemukan pada perilaku manusia karena mereka merupakan mahluk hidup yang berpikir. Kecenderungan kedua ini ditemukan pada umumnya pada ilmu sejarah dan antropologi.
Dalam sejarah panjang dunia, Wallerstein (1976a: 346) membaginya dalam tiga episode besar, yakni sistim mini (mini-systems), sistim imperium dunia (world-empire systems) dan sistim ekonomi dunia (world-economy systems). Penggalan sejarah yang terakhir tersebut sampai kini tetap masih berlangsung, sekalipun tidak sepenuhnya sendirian, kadangkala masih dijumpai berdiri dan beroperasi secara berdampingan dengan yang disebut pertama dan kedua, sekalipun diyakini bahwa pada saatnya sistim ekonomi dunia akan menjadi sistim yang paling dominan. Dalam sistim ekonomi dunia dijumpai satu sistim ekonomi saja yakni kapitalisme, tetapi di sisi lain dijumpai beberapa sistim politik yang berbeda-beda yang ada di dalamnya. Dalam bahasa ilmu perbandingan sejarah sesungguhnya apa yang dicoba dirumuskan oleh teori sistim dunia ini dapat dicerna dengan apa yang ditulis oleh Charles Tilly (1984), yakni mengamati kemunculan dan beoperasinya “big structures,” mengenali secara rinci “large processes,” dan melakukan analisis dengan metode “huge comparisons.” Struktur besarnya terlihat pada kelahiran dan pergeseran berbagai sistim dunia, sejak dari sistim mini, sistsim imperium, dan diakhiri dengan sistim ekonomi dunia. Proses besarnya, dalam konteks ini adalah proses eksploitasi, ditunjukkan dengan adanya kategori posisi wilayah, dari yang berposisi sebagai wilayah inti, wilayah pinggiran, dan wilayah semi pinggiran. Ini berbeda dengan yang diajukan oleh teori dependensia yang hanya memiliki dua katgeori saja, yakni wilayah inti dan pinggiran. Kajian perbandingan besarnya ditunjukkan dengan memperhatikan pergeseran kekuatan posisi wilayah yang berlangsung di dalam sistim ekonomi dunia itu sendiri pada berbagai belahan dunia yang berbeda.
Sepertinya dua pengertian dan prasyarat lahirnya GT yang telah ditulis pada bagian di atas tersebut dapat dinilai sebagai prasyarat pokok, namun demikian belum cukup (necessary but insufficient requirements) untuk memberikan jaminan bahwa kelahiran sebuah teori memiliki peluang dan kepastian menjadi sebuah GT. Ada syarat tambahan yang diperlukan sebagai kecukupan, setidaknya jika menilik dan mencermati apa yang sekarang acapkali dikategorikan sebagai GT. Yang diperlukan ternyata tidak hanya penemua teorinya dengan GTnya, melainkan juga madzab (school of thought) yang mengikuti muncul setelah sebuah teori dilahirkan, memerlukan waktu yang mungkin lama untuk dibangun. Barulah kemudian teori tersebut memiliki peluang yang lebih besar untuk disebut sebagai GT. Jadi kemunculan sebuah GT mustahil dapat diketahui sejak kelahirannya. Ketika baru lahir, sepertinya tidak ada yang berani melakukan prediksi untuk menyatakan bahwa sebuah teori memiliki kemungkinan untuk menjadi GT. Temukan saja keberanian untuk melahirkan sebuah teori, tanpa perlu berhitung apakah akan menjadi GT atau MRT.
Ternyata yang diperlukan bukan hanya Marx dengan teori konflik klas dan teori nilai tetapi juga Marxisme. Bukan hanya membutuhkan Weber dengan teori organisasi, birokrasi, dan status sosial, tetapi juga memerlukan Weberian. Yang perlu hadir bukan buka hanya Parson dengan teori fungsionalnya, tetapi Parsonian dengan madzab fungsionalisme. Tidak juga hanya Smith dengan pasar bebasnya, tetapi juga Smithisme. Demikian pula bukan hanya Keynes, tetapi juga munculnya Keynesian dengan intervensi negara. Bukan hanya North yang dibutuhkan, tetapi juga madzab ekonomi kelembagaan baru. Tidak saja diperlukan kehadiran Wallerstein, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah Wallersteinisme dengan kelahiran dan pengembangan madzab teori sistim dunia. Dengan demikian, dapat dipastikan diperlukan kehadiran generasi berikutnya yang lebih banyak yang setia dan terus menerus tidak saja mengembangkan GT yang dilahirkan oleh generasi pertama (awal) tetapi juga menggelorakannya secara berkelanjutan. Untuk itu semua diperlukan beberapa syarat tambahan lagi, misalya murid-murid cerdas dan setia, jurnal publikasi, jaringan intelektual global, dukungan institusi ilmiah, dan tentu saja yang tidak kalah penting adalah dukungan kecukupan dana. Yang tidak boleh dilupakan kelahiran GT ternyata juga membutuhkan koneksi politik dan momentum yang tepat.
Sedemikian pentingnya kah sebuah GT? Jawaban pada pertanyaan tersebut sebagian diberikan oleh Stinchcombe (1982) dan Alexander (1987).

** Naskah ditulis dari prespektif akademis dan profesional penulis. Alat AI hanya digunakan untuk visualisasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *