Paradoks vs Abstraksi: Komponen Dasar dan Isu Besar MMT

Oleh Suwarsono Muhammad (Analis Ekonomi Pembangunan) Setelah dengan sedikit rasa enggan untuk membahas apa itu teori yang ternyata memiliki posisi paradoks dalam hampir semua disiplin ilmu pengetahuan – seperti yang telah disajikan dalam Bab 2 – jika berkehendak tulisan ini sesungguhnya sudah agak pantas dan dapat secara langsung untuk mengolah dan menyajikan menu utama tentang…


whc2t Avatar

·

6–8 minutes

Oleh Suwarsono Muhammad (Analis Ekonomi Pembangunan)

Setelah dengan sedikit rasa enggan untuk membahas apa itu teori yang ternyata memiliki posisi paradoks dalam hampir semua disiplin ilmu pengetahuan – seperti yang telah disajikan dalam Bab 2 – jika berkehendak tulisan ini sesungguhnya sudah agak pantas dan dapat secara langsung untuk mengolah dan menyajikan menu utama tentang strategi dan taktik membangun teori yang tersedia untuk masing-masing perspektif besar dalam MMT – deduksi, induksi, dan abduksi – secara detail dengan menyuguhkan hidangan yang telah diramu dan diolah oleh masing-masing juru masak yang handal Di dalamnya dapat juga disajikan analisis keunikan, keunggulan, kelemahan, dan sekaligus perbandingan, untuk menambah kedalaman dan kecanggihan pembahasan.
Namun demikian, tulisan ini memilih arah lain, jalan yang sedikit berliku tetapi jika sabar dilalui akan membantu memudahkan meraih pemahaman pada sajian bab-bab berikutnya. Tulisan ini, dengan demikian, memilih untuk berbelok lagi untuk kedua kalinya – setelah pada belokan pertama berkunjung sejenak menengok apa itu teori – dengan menjenguk terlebih dahulu secara ringkas pada pola dasar (basic forms) metodologi membangun teori, tanpa terlebih dahulu mengkaitkan dengan ketiga perspektif besar yang ada di dalamnya, untuk sementara diabaikan terlebih dahulu. Elemen-elemen (pokok) yang ada pada pola dasar ini hampir selalu ditemukan, apapun perspektif MMT yang nantinya hendak digunakan (Folger dan Turrilo, 1999: 742-758; Grimes dan Lewis, 1999: 672-690; Shepherd dan Suddaby, 2016: 1-28; Swedberg, 2017: 189-206, Weick, 1999: 797-807).
Di samping itu, tulisan ini juga akan menyajikan menu tambahan, sebagai penyegar hidangan, yang terkait dengan persoalan (isu) besar yang secara mainfes dan laten selalu dijumpai ketika akademikus tengah bergulat dalam proses rumit yang menjemukan dalam membangun teori. Jika lengah, persoalan ini bukan tidak mungkin dapat mengganggu kesempurnaan produk yang dihasilkan: kecanggihan dan kredibilitas teori. Setidaknya membuka peluang untuk terpeleset. Jangan pernah dilupakan membangun teori selalu melewati jalan licin (slippery). Dijumpai setidaknya dua isu besar, yakni keterkaitan antara paradigma ilmu dan perspektif metodologi membangun teori dan skala kebaharuan dan praktikalitas teori (Corley dan Gioia, 2011: 12-32; Colquitt dan Zapata-Phelan, 2007: 1281- 1303; Gioia dan Pitre, 1990: 584-602; Grimes dan Lewis, 1999: 672-690).
Di samping kreativitas, kerja cerdas, dan keras, membangun teori juga memerlukan kesabaran, ketekunan, dan memakan waktu yang relatif panjang – syarat informal yang acapkali dilupakan, dengan hasil yang juga belum dapat diketahui, dapat dipastikan lahir teori baru. Proses belajarnya juga tidak perlu tergesa-gesa untuk sampai pada jalan dan menu utama (main courses) MMT – strategi dan taktik. Tahap sajian menu makanan pembuka (appetizers) juga perlu dinikmati. Dalam bahasa Smith dan Hitt (2005: 572) ditulis bahwa “For the most part, the process of theory development is causally ambiguous, involving tacit knowledge and difficult to observe process.” Para pembangun teori ini, menurut Rivard (2021: 316) tidak diseyogyakan memiliki “….. a romantic view of theory and of theory building.” Harapan untuk menghasilkan “….. a complete, flawless, deep, and exhaustive explanation of phenomenon” tidak dianjurkan untuk digenggam erat-erat secara kaku. Inilah yang juga ditegaskan oleh Weick (1995: 385) bahwa sesungguhnya “Most products that are labelled theories actually approximate theory.”
Ada yang memberikan metafora layaknya belajar berenang atau naik sepeda. Tidak sekedar mengenali teori membangun teori, tetapi perlu praktik dengan diiringi hasil yang juga berproses, dimulai dari keberhasilan kecil – mungkin malah mengalami kegagalan – dan barulah kemudian meraih hasil yang lebih baik. Perlu kelapangan hati dengan diiringi semangat tidak pernah patah menyerah. Ada proses jatuh bangun. Kejatuhan itu sepertinya tidak dapat sepenuhnya dielakkan. Oleh karena itu tidak heran jika ilmuwan yang berhasil melahirkan teori tidak berlebihan jika disebut sebagai “master,” atau malah lebih tepat dijuluki sebagai “grand master.” Mereka memiliki “great minds.” Membangun teori itu memerlukan tiga jenis kehandalan sekaligus, yang terkait dengan “science, art,” dan sekaligus “craft,” yang dipastikan tidak dijumpai pada banyak ilmuwan (lihat Gregory dan Hendfridsson, 2021: 1509-1523; dan Rivard, 2021: 318-328).
Proses MMT dipastikan terdiri dari banyak, bukan sekedar beberapa, elemen. Ada yang bersifat dasar dan ada yang berupa tambahan atau sampingan. Secara detail masing-masing elemen akan diuraikan pada bab-bab berikutnya nanti berdasar penjelasan yang dibuat oleh masing-masing masternya, yang ada pada masing-masing perspektif. Dalam bagian ini hanya diuraikan dua elemen dasar MMT, yang dapat dipastikan dijumpai, tanpa perlu memandang atau dikaitkan dengan ragam perspektif yang tersedia dalam MMT dan sekaligus paradigma keilmuan manajemen. Dua elemen dasar ini dipastikan akan dilakukan oleh setiap ilmuwan pembangun teori. Keduanya merupakan kompetensi yang perlu – bahkan harus – dikuasai secara handal.
Dua elemen pokok tersebut adalah menemukan pokok persoalan yang hendak dicarikan eksplanasi dengan teori baru, karena belum ada teori penjelasnya. Tidak lain tidak bukan, yang pertama adalah pencarian asal-usul ide membangun teori dan yang terakhir merupakan abstraksi yang perlu dilakukan sebagai proses terakhir dalam memproduksi teori. Keduanya merupakan langkah pertama dan proses terakhir dari MMT. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dua elemen ini merupakan komponen terpenting, dan mungkin tersulit, dalam MMT, memerlukan “disciplined imagination,” tegas Weick (1989: 516-531; lihat juga Mills, 1967/1959). Disebut sebagai “the basic tools of theorizing,” atau “the mental tools” atau “the ways of thinking,” oleh Swedberg (2017: 191-192).
Pertanyaan pertama yang perlu dicarikan jawabannya dalam MMT adalah pokok persoalan apa yang menjadi sumber utama tentang perlunya membangun teorij (baru) yang diperlukan sebagai eksplanasi. Apakah ditemukan alasan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan? Persoalan pokok apa yang menjadi pendorong lahirnya kebutuhan menemukan teori. Dibahasakan oleh Shepherd dan Suddaby (2016: 3) apa yang menjadi “theorizing trigger.” Ditulisnya lebih jauh bahwa langkah ini merupakan tahapan yang sangat menantang karena pada esensinya yang hendak dicari adalah mengidentifikasi dan menemukan “an anomaly or tension” yang pada gilirannya menjadi sumber motivasi utama dan sekaligus menjadi “guide the process” teoritisasi yang hendak dijalankan. “Doing so is a creative process that requires both considerable imagination….. and acute powers of observation…”

Asal-usul Ide: Teorisasi Paradoks
Paradoks dalam teori manajemen mulai secara sungguh-sungguh mendapatkan perhatian untuk dieksplorasi secara mendalam pada tahun 1988. Itulah yang dinyatakan tegas oleh Lewis (2000: 760) dengan menunjuk tulisan yang dibuat oleh Cameron dan Quinn (1988) sebagai penanda awalnya. Paradoks tidak lagi dinilai serba negatif dan oleh karena itu cukup diabaikan saja, tetapi justru mulai diperlakukan bahwa ada kemungkinan besar yang positif di dalamnya. Kajian tentangnya bergerak maju “…..move beyond oversimplified and polarized notions to recognize the complexity, diversity, and ambiguity of organizational life.” Adanya paradoks justru membuka kemungkinan sebagai kelahiran salah satu perspektif kuat dalam memahami pluralitas dan perubahan, dan tidak kalah pentingnya untuk dapat mengerti dengan lebih baik tentang pengalaman yang bersifat disruptif.
Sejak tahun tersebut kajian tentang paradoks menjamur, menjadi industri yang tumbuh, sekalipun kemudian juga disinyalir bahwa paradoks berubah arah menjadi “…..management cliche of our time – overused and underspecified.” Pengakuan tentang signifikansi dan relevansi paradoks dalam manajemen sepertinya berhenti pada usaha untuk menjernihkan teori yang sudah terbangun, terutama dengan mengenali lebih dalam tentang asal-usul (sumber) kemunculan dan karakteristik paradoks itu sendiri. Untuk keperluan itu ditawarkan oleh Lewis (2000: 761) tiga alternatif arah kajian yang perlu ditempuh, yakni dengan melakukan klarifikasi pada “(1) how paradoxical tensions stem from polarized cognitive or social construction, (2) how actors’ defensive reaction might fuel reinforcing cycles, and (3) how actors can avoid stuck in these paralyzing and often vicious cycles via greater cognitive and behavioral complexity.” Kemajuan perhatian berhenti sampai pada tahap ini, untuk sementara waktu.
“Using Paradox to Build Management and Organizational Theories” yang ditulis oleh Poole dan Van de Ven (1989: 562-578) lebih dari tiga dasawarsa lalu ditempatkan oleh Keller, Berti, dan Smith (2025: 1-2) sebagai penanda awal kelahiran perspektif teorisasi paradoks. “Over three decades ago, Poole and Van de Ven (1989) proposed drawing on paradox to generate new theories,” demikian ditulis oleh Keller, Berti, dan Smith (2025: 2). Dari sisi waktu tulisan mereka ini hanya berjarak satu tahun dengan tulisan serupa yang dibuat oleh Cameron dan Quinn (1988) yang telah disebut di atas. Namun demikian tulisan yang dibuat pada tahun 1989 tersebut memiliki jangkauan yang lebih jauh, tidak hanya sekedar berusaha menjernihkan teori yang sudah ada, tetapi justru menempatkan paradoks yang ada dalam teori yang sudah terbangun sebagai (salah satu) sumber ide (inspirasi) terpenting dalam membangun teori baru. Pada tahun itu ditulis tegas oleh Poole dan van de Ven (1989: 562) bahwa ilmu-ilmu sosial akan kehilangan sumber penting dalam mengembangkan dan membangun teori jika mereka mengabaikan “…. the incompatible or inconsistent theses” yang sesungguhnya selalu dijumpai dalam kajian organisasi dan manajemen, sekalipun ada yang secara agak sinis menegaskan bahwa teori yang tidak konsisten merupakan “…..the hobgoblin of little minds.” Paradoks menjadi sumber teorisasi: teorisasi berbasis paradoks.

** Naskah ditulis dari prespektif akademis dan profesional penulis. Alat AI hanya digunakan untuk visualisasi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *